Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Food Estate Solusi Pemenuhan Kebutuhan Pangan pada Masa Pandemi Covid-19

Azan subuh belum berkumandang, tetapi tim Balittanah, BBSDLP telah mulai perjalanan panjang menuju Kalimantan Tengah. Berbekal surat keterangan hasil rapid test bebas Covid-19, tim yang terdiri dari Ka. Balittanah Dr. Ladiyani Retno Widowati didampingi Dr. IGM. Subiksa dan Ir. Anny Mulyani MS, dan dipimpin oleh Kepala BBSDLP Dr. Husnain bergegas menembus malam menuju bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan Batik Air dengan formasi duduk physical distancing mendarat mulus di bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Setelah melakukan rapat koordinasi dengan BPTP Kalimantan Tengah dan beberapa peneliti dari lembaga penelitian terkait dengan pelaksanaan pengembangan food estate, tim menuju calon lokasi di Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau. Perjalanan selama 3 jam ke lokasi di Desa Belanti Siam, sekitar 110 km dari Palangka Raya, peneliti disuguhi pemandangan landscape lahan rawa dengan vegetasi yang beragam.

Skim reklamasi lahan rawa Belanti dibuka pada tahun 1980an adalah lahan rawa pasang surut dengan tanah sulfat masam dan tipe luapan B. Lahan di daerah ini memiliki tanah yang mengandung pirit, senyawa besi disulfida, pada kedalaman sekitar 50 cm. Pirit akan menjadi sumber kemasaman tanah rawa pasang surut bila mengalami oksidasi pada saat terpapar udara bebas saat tanah dalam kondisi kering. Oleh karenanya, lapisan bawah tanah yang mengandung pirit tersebut harus tetap dipertahankan dalam kondisi jenuh air supaya tidak mengalami oksidasi dan menghindari pemasaman lebih lanjut.

Setelah hampir 40 tahun direklamasi, saat ini lahan rawa yang sebelumnya berupa lahan terdegradasi di Belanti Siam perlahan menjadi lahan yang subur. Hal ini dibuktikan dengan hamparan sawah yang subur seperti sawah yang terdapat di Kerawang. Tanaman padi varietas unggul baru, bahkan padi hibrida, menunjukkan performa pertumbuhan yang menakjubkan. Saluran air cukup bersih dan tidak terlihat adanya pengendapan besi oksida di saluran sekunder maupun tersier. Hasil pengukuran pH air sawah menunjukkan kemasaman tinggi (pH 4,8) dan salinitas tergolong sangat rendah, sekitar nilai daya hantar listrik 0,01 dS/m.

Keesokan harinya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengunjungi lokasi untuk menyiapkan kunjungan Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 9 Juli 2020. Mentan memberi arahan agar disiapkan lahan di sekitar lokasi Belanti seluas minimal 10.000 ha untuk dijadikan Food Estate yang siap ditanami pada Oktober 2020. Sementara itu, lokasi lahan rawa di Dadahup yang dikunjungi sebelumnya oleh Menteri Pertanian dikatakan belum siap sepenuhnya pada tahun ini, tetapi akan mulai dikembangkan agar berproduksi maksimal pada tahun 2021. Lebih lanjut Menteri Pertanian memberikan arahan agar lahan seluas 28.320 ha di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas segera dipersiapkan pada musim tanam bulan Oktober 2020.

Lokasi Demfarm kedua berada di Kecamatan Tamban Catur Kabupaten Kapuas dimana kondisinya hampir sama dengan Pandih Batu. Namun tingkat kemasaman tanah lebih tinggi dengan nilai pH 4,4. Luasan lokasi denfarm ini sekitar 970 ha dan terletak di tiga wilayah administratif desa yaitu Desa Warna Sari, Desa Sidomulyo dan Desa Sidorejo. Kondisi eksisting saat ini terdapat tanaman padi varietas unggul baru, padi lokal Siam dan padi hibrida yang tumbuh dengan baik. Petani lokal sendiri memiliki preferensi untuk menanam varietas lokal Siam pada MK-1 karena lebih toleran terhadap kondisi kemasaman tinggi dan tahan terhadap keracunan besi. Pada kesempatan kunjungan ini, PPL Tamban Catur, Artani Asbi menyampaikan dukungannya terhadap program food estate di tiga wilayah binaannya. Menurut Artani, permasalahan utama yang masih perlu dibenahi adalah masalah sosio kultur seperti kekompakan petani dan menumbuhkan motivasi untuk bertanam di bulan Oktober – Maret atau pertanaman MH. Hal ini disebabkan karena kebiasaan petani menyelenggarakan berbagai acara hajatan (pernikahan/sunatan) setelah panen bulan Agustus.

Calon lokasi pengembangan Food Estate selanjutnya adalah Desa Bentuk Jaya Kecamatan Dadahup, dan lokasi ini merupakan lokasi yang dikunjungi oleh presiden Jokowi pada 9 Juli 2020, dengan luas areal 10.000 ha. Kondisi eksisting lahan pertanian di desa ini dalam kondisi terlantar yang diberakan sejak tahun 2007. Permasalahan utama yang dihadapi petani setempat adalah lokasi lahan pertanian yang selalu tergenang banjir sampai ketinggian pinggang orang dewasa. Penduduk setempat menduga bahwa penyebab utamanya adalah saluran primer yang mengalami pendangkalan sehingga tidak bisa mengalirkan kelebihan air dari lahan usaha tani serta rusaknya pintu air di hulu saluran induk, sementara pintu air ujung hilir tersumbat oleh tanah, rumput dan sampah kayu sehingga tidak bisa membuang air ke sungai Barito. Kondisi banjir di lahan pertanian menyebabkan petani tidak bisa melakukan aktivitas bertani. Untuk menyambung hidup, mereka bekerja apa saja termasuk bekerja di perkebunan sawit yang jaraknya sekitar 10 km dari desa mereka.

Pada kesempatan wawancara dengan petani setempat diketahui bahwa mereka mendukung program Food Estate ini dan akan ikut kembali bertani di lahan pertanian mereka. Petani setempat sangat berharap agar kejayaan Dadahup sebagai sentra pertanian akan bangkit kembali dan berharap agar Dadahup kembali menjadi sentra produksi beras di Kalimantan Tengah. Mari kita bersatu mensukseskan program food estate ini. (IGMS, LRW, AFS, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933