Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Kurangi Dampak Banjir, OASE Sosialisasikan Biopori

Bidang V Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE-KIM) yang diketuai istri Menteri Pertanian Ayunsri Syahrul Yasin Limpo, di Toko Tani Indonesia Center, Pasar Minggu, belajar mengenai teknik biopori yang bermanfaat sebagai area peresapan air serta tempat untuk mengomposkan bahan organik. “Biopori adalah sarana untuk meningkatkan resapan air hujan dan menjadi tempat pembuatan kompos yang dapat dibuat dengan sangat mudah dan dengan cara yang sederhana,” ujarnya.

Ayunsri menambahkan bahwa kegiatan ini didasari rasa kekhawatiran terhadap menurunnya kualitas tanah sebagai dampak ikutan dari banjir, khususnya yang menimpa wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada awal 2020. Banjir tersebut terjadi karena intensitas hujan yang besar dalam waktu singkat yang membuat kecepatan serapan air ke dalam tanah tidak seimbang dengan datangnya air hujan. Selain itu kecepatan aliran air di atas permukaan tanah menyebabkan hanyutnya lapisan tanah subur dan bahan organik, inilah yang disebut erosi.

Bidang V OASE-KIM atau bidang Indonesia Hijau sendiri merupakan bidang yang berfokus pada program pekarangan pangan lestari dan penanaman pohon dan teknik bertanam sayur dengan biopori. Mendukung kegiatan OASE KIM ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanah melakukan pendampingan kegiatan, bimbingan teknis dan menyampaikan bahan-bahan publikasi yang terkait dengan kegiatan. Sebagai narasumber, hadir Kepala Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian, Dr. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc.

Ladiyani menjelaskan bahwa biopori bermanfaat sebagai resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah, dan juga menjadi tempat media pembusukan bahan organik yang bila sudah menjadi kompos dapat dipergunakan untuk menyuburkan tanaman disekitarnya. “Biopori dapat dibuat dengan menggunakan bor dari besi/baja yang tidak berkarat. Lubang dibuat pada daerah aliran air, sehingga dapat berfungsi menangkap air hujan. Serta jangan lupa untuk memasukkan bahan organic hasil membersihkan pekarangan atau dari limbah sayuran rumah tangga ke dalam lubang secara periodik dan dapat dipanen pada akhir musim kemarau,” terangnya.

Biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Secara ukuran, Biopori ini terbilang kecil. Namun apabila dibuat pada lahan pekarangan dengan jarak 100 cm, maka setiap rumah tangga yang tinggal diperkotaan minimal akan memiliki 4-5 Biopori. Bila dalam satu RT terdapat 40 rumah, maka 160-200 biopori. Satu biopori memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220,13 cm2. Sedangkan tanpa biopori, area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm2. “Oleh karenanya, dengan hadirnya Biopori, kita dapat mengurangi kelebihan limpasan air hujan yang dapat menyebabkan banjir serta mampu memproduksi kompos dengan mudah secara mandiri yang dapat mengurangi sampah.” Tutup Ladiyani. (LRW, M.Is, dan Int).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933