Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Akselerasi Transformasi Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial

Menurut Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 2 menyebutkan bahwa "Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan".

Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan mengemban amanah sebagai tempat pembelajaran dan kemitraan bagi masyarakat yang dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan dapat diukur capaian kinerja bagi kesejahteraan masyarakat. Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Setiap masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan. Masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Dan masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.

Transformasi perpustakaan pertanian berbasis inklusi sosial bertujuan untuk memperkuat peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kemampuan literasi meningkatkan yang berujung peningkatan kreativitas masyarakat dan memangkas kesenjangan akses informasi.

Kegiatan Temu Teknis Pengelolaan Perpustakaan dan Pengembangan Perpustakaan Lingkup Kementerian Pertanian Perpustakaan dilaksanakan pada tanggal 12-15 Pebruari 2020 bertempat di Hotel Aryaduta Jakarta ikuti oleh pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian (116 Intitusi lingkup kementan).

Temu Teknis tahun ini dibuka oleh Kepala Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian di Bogor, bertema Akselerasi Transfortasi Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial. Penjelasan Ka Pustaka Bogor menyatakan perpustakaan untuk sekarang harus sudah berbasis inklusi sosial dimana perpustakaan dalam hal ini pustakawan harus jemput bola/berhubungan langsung dengan pamustaka untuk melakukan survei kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pamustaka.

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan suatu pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan. Transformasi tersebut dapat diwujudkan dalam 4 peran, yaitu: (1) Perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan, pusat kegiatan masyarakat, dan pusat kebudayaan (2) Perpustakaan dirancang lebih berdaya guna bagi masyarakat (3) Perpustakaan menjadi wadah untuk menemukan solusi dari permasalahan kehidupan masyarakat (4) Perpustakaan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Tujuan Kebijakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah untuk: (1) Meningkatkan literasi informasi berbasis TIK, (2) Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat (3) memperkuat peran dan fungsi perpustakaan, agar tidak hanya sekadar tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tapi menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat dan pemberdayaan masyarakat.

Balai Penelitian Tanah menduduki peringkat terbaik pertama dalam kontes proses pembuatan proposal akselerasi transformasi perpustakaan pertanian berbasis inklusi sosial yang diselenggarakan oleh panitia yang diikuti oleh 116 perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian, dengan judul proposal “ Pemanfaatan Pekarangan Rumah di Masyarakat Cimanggu Bogor Melalui Literasi” (Ijang dan M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933