Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Sektor Pertanian dalam Perubahan Iklim: COP25, Madrid, Spanyol

Konferensi Para Pihak (COP) ke-23 di Bonn, Jerman tahun 2017, menjadi tonggak pengakuan dunia akan arti perting sektor pertanian dalam agenda perubahan iklim. Pertanian, terutama di negara-negara yang tergabung dalam kelompok G77 and China dinilai sangat rentan terhadap perubahan iklim. COP mengamanatkan badan subsider UNFCCC (Kerangka Konvensi Perubahan Iklim PBB) membentuk satuan kerja yang diberi nama Koronivia Joint Work on Agriculture (KJWA) untuk membahas berbagai isu adaptasi sektor pertanian seperti (i) memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah, karbon tanah, dan pengelolaan air, (ii) memperbaiki pengelolaan hara dan pengelolaan kotoran ternak, (c) memperbaiki sistem pengelolaan ternak, serta (d) memperhatikan aspek sosial ekonomi dan ketahanan pangan.

Pada COP25 bulan Desember 2019 yang dilaksanakan di Madrid, Spanyol, KJWA dan berbagai organisasi pendukung membahas berbagai topik berhubungan dengan penguatan sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Dr. Setiari Marwanto, Delegasi RI (DELRI) sektor Pertanian, berbicara di Pavilion Uni Eropa mengenai pengalaman Indonesia dalam mengelola lahan pertanian. Dalam paparannya, Setiari mengatakan “Sebagai negara agraris, urusan kesuburan, kesehatan dan karbon tanah mendapatkan perhatian besar dari Pemerintah Indonesia sebagai salah satu cara mewujudkan ketahanan pangan”.

Disampaikan juga bahwa pengelolaan kesuburan, kesehatan, dan karbon tanah dilakukan dengan menggunakan pupuk organik seperti seperti pupuk kandang dan sisa tanaman. Hasil penelitian di Indonesia secara jelas menunjukkan peran penting bahan organik dalam memperbaiki struktur tanah, aerasi tanah, kapasitas tanah memegang air, dan kapasitas tukar kation tanah, sehingga perbaikan karbon tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah, efisiensi pupuk, dan hasil tanaman. Pemberian bahan organik ke dalam tanah juga mampu menyehatkan tanah dengan terciptanya habitat mikrob dan fauna tanah. Pemupukan bahan organik juga berarti mengurangi karbon di atmosfer dan meningkatkan karbon tersimpan di dalam tanah.

Namun demikian, ketersediaan bahan organik di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Ada daerah yang memiliki kelebihan produksi bahan organik, namun ada juga tidak memiliki sumber bahan organik. Pemberian bahan organik ke dalam tanahpun bervariasi sesuai dengan tingkat kapasitas dan modal petani. Inisiatif global untuk membantu pertanian Indonesia mengelola kesuburan dan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan cadangan karbon di dalam tanah akan sangat berguna untuk mendorong sektor ini mampu beradaptasi di tengah perubahan iklim.

Agenda KJWA lainnya dalam COP25 ini adalah melaksanakan mandated workshop mengenai topik perbaikan pengelolaan hara dan kotoran ternak. Dalam kesempatan tersebut Indonesia diminta untuk berbagi pengalamannya di hadapan delegasi negara-negara anggota PBB. Indonesia yang diwakili oleh Prof. Fahmuddin Agus, memaparkan tentang teknologi pemupukan berimbang dan efisien. Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk yang memenuhi kebutuhan tanaman untuk berbagai unsur hara, sedangkan pemupukan efisien adalah pemberian pupuk yang tepat waktu, tepat cara, tepat dosis, dan tepat jumlah. “Dengan meningkatkan efisiensi pupuk dan menerapkan pemupukan berimbang, sektor pertanian akan lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, karena tanaman yang dipupuk sesuai kebutuhannya akan lebih sehat dan tanah terhadap berbagai gangguan penyakit. Di lain sisi, dengan pemberian pupuk berimbang pupuk tidak terbuang percuma. Di samping itu pengelolaan hara yang tepat memberikan keuntungan tambahan berupa pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK),” papar Fahmuddin Agus.

Indonesia telah menerapkan berbagai aksi adaptasi, namun ke depan Indonesia perlu memperbaiki cara pengelolaan pertanian dan perlu memperluas adopsi teknologi adaptasi, agar pertanian Indonesia dapat mewujukan ketahanan pangan dan tangguh terhadap cekaman perubahan iklim. Berbagai sistem yang dapat meningkatkan daya adaptasi sektor pertanian menghadapi perubahan iklim antara lain adalah (i) intensifikasi sektor pertanian untuk meningkatkan hasil tanaman, misalnya pada perkebunan kelapa sawit rakyat, (ii) mengintegrasikan tanaman dengan ternak untuk mengotimalkan produksi kedua komponen dan meningkatkan keuntungan petani, dan (iii) menerapkan berbagai opsi teknologi panen air dan konservasi tanah dan air. Dukungan pemerintah diperlukan untuk meningkatan pengetahuan aparat dan petani dalam menghadapi perubahan iklim dan untuk mengenali berbagai opsi teknologi yang tepat guna dalam menghadapi perubahan iklim. (SM dan FA).

 

 

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933