Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Memperkecil Senjang Hasil Kelapa Sawit Berpotensi Menghemat Lahan dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Kelapa sawit merupakan tanaman yang mampu memberikan keuntungan finansial yang cukup besar sehingga mendorong masyarakat untuk menanamnya secara besar-besaran. Namun demikian, praktek budidaya kelapa sawit di tingkat masyarakat selama ini masih terjadi kesenjangan hasil produksi atau yield gap.

Produktivitas pada tingkat petani hanya sekitar 35% dari potensi hasil dengan asumsi hasil pada keadaan iklim tertentu tanpa mengalami keterbatasan ketersediaan hara dan serangan hama/penyakit yang signifikan. Berbagai penyebab rendahnya produktivitas kelapa sawit dapat disebabkan oleh penggunaan bibit yang berkualitas rendah, pemupukan yang tidak cukup dan tidak berimbang, frekuensi panen yang belum ideal dan pengurasan kandungan bahan organik tanah akibat penggunaannya yang intensif tanpa usaha pengembalian ataupun penambahan bahan organik ke dalam tanah. 

Isu lain berkaitan dengan kelapa sawit adalah bahwa perkebunan sawit dianggap sebagai salah satu penyebab utama emisi gas rumah kaca pada pertanian. Hal ini tidak lepas dari historis pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sebagian besar menggunakan lahan hutan dan lahan gambut yang tinggi cadangan karbonnya. Dampak dari konversi lahan gambut ini adalah terjadinya peningkatan emisi gas rumah kaca yang cukup nyata. 

Terkait dengan yield gap yang terjadi, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah (Balittanah) mengadakan riset bekerjasama dengan beberapa universitas (University of Nebraska-Lincoln, Wageningen University, Universitas Indonesia), dan beberapa lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat. Kegiatan riset yang diberi nama Global Yield Gap Atlas (GYGA) Oil Palm ini merupakan riset jangka panjang yang dimulai tahun 2019 dan akan berakhir pada tahun 2023.

Prof. Dr. Fahmuddin Agus, peneliti utama Balitbangtan menjelaskan bahwa peran Balittanah dalam riset ini adalah untuk mempelajari perubahan cadangan (stock) karbon organik di dalam tanah, baik dalam fungsinya untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit maupun untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Balittanah juga ditugaskan untuk menganalisis skenario perubahan penggunaan lahan ke depan dan seberapa besar arti peningkatan hasil tandan buah segar kelapa sawit terhadap penghematan lahan (land saving) dan penurunan emisi gas rumah kaca.

Pengelolaan bahan organik merupakan praktek yang rutin pada perkebunan kelapa sawit melalui daur ulang pelepah sawit. Seperti diketahui bahwa bahan organik memiliki fungsi dalam memperbaiki struktur tanah (berat isi, agregasi, kapasitas tanah memegang air, aerasi dan drainase tanah). Tanah dengan sifat fisik yang baik akan meningkatkan penetrasi akar, aerasi tanah, dan ketersediaan air bagi tanaman. Bahan organik juga berfungsi untuk memperbaiki sifat kimia tanah melalui peningkatan kapasitas tukar kation yang akan menjamin ketersediaan hara bagi tanaman. Kesehatan tanah yang dicirikan oleh melimpahnya organisme di dalam tanah juga ditentukan oleh kandungan bahan organik tanah.

Selanjutnya dalam kegiatan penelitian ini, salah satu faktor yang menjadi fokus penelitian terkait bahan organik yaitu mengenai bagaimana pelepah sawit ditata dari sistem konvensional dengan menumpuk pelepah diubah menjadi menyebar pelepah sehingga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan perakaran dan meningkatkan  kadar air tanah.   

Melalui penyimpanan atau pengembalian bahan organik ke dalam tanah maka konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dapat dikurangi. Luasnya perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia menjadikan potensi penyimpanan karbon oleh perkebunan ini juga semakin besar. Semakin banyak karbon tersimpan di dalam tanah, semakin berkurang konsentrasinya di dalam atmosfer. Pengelolaan kebun kelapa sawit yang benar juga berpengaruh besar dalam menekan emisi gas rumah kaca yang terjadi sehingga perkebunan ini menjadi ramah lingkungan.

Penelitian ini dilaksanakan di di enam provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.  Salah satu lokasi penelitian adalah perkebunan kelapa sawit di Desa Harapan Jaya, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Hasil pengamatan sementara menunjukkan bahwa senjang hasil panen kelapa sawit salah satunya disebabkan oleh pengelolaan kebun yang belum menerapkan “best management practices” terutama dalam hal mempertahankan dan menambah kandungan bahan organik di dalam tanah dan hampir tidak adanya pemupukan di kalangan petani. Salah seorang petani di Desa Harapan Jaya, Kalimantan Timur menyatakan ketidaktahuan mereka bahwa dengan pemupukan dapat meningkatkan hasil lebih dari dua kali lipat.  Ini menunjukkan bahwa teknologi dan aplikasi nyata penerapan teknologi di tingkat lapang sangat diperlukan.

Sebagai informasi diketahui bahwa lokasi Harapan Jaya didominasi oleh ordo Ultisol dan Inseptisol yang relatif rendah cadangan karbonnya. Ini menggambarkan besarnya peluang untuk menyimpan karbon lebih banyak pada tanah Ultisol dan Inceptisol. Penataan jarak tanam, jalur bersih, jalur kotor, pemupukan, pengapuran, pemangkasan pelepah, dan pengembalian sisa biomassa ke dalam lahan menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit sekaligus meningkatkan cadangan karbon di dalam tanah. Selain itu, perbaikan penggunaan bibit tanaman bermutu tinggi untuk areal baru dan areal replanting merupakan perlakuan kunci best management. Diharapkan dengan praktek best management masalah yield gap ini dapat teratasi. (KZ, SM, FA, AFS, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933