Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Konsep Pengelolaan Pertanian Adaptif, Solusi Menghadapi Perubahan Iklim

Perubahan iklim dunia telah dirasakan dampaknya oleh sektor pertanian Indonesia. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan perubahan frekuensi dan intensitas peristiwa iklim ekstrim (misalnya: badai angin, hujan intensitas tinggi, kemarau panjang) telah berdampak pada terganggunya hasil panen dan produktivitas pertanian. Kondisi ini berpotensi menghambat pembangunan pertanian yang diamanahkan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Untuk menyiasati hal ini, diperlukan strategi yang cerdas dan bijak agar tujuan pembangunan tetap tercapai di tengah kondisi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Secara global, gagasan ini dikemas dalam konsep Climate–Smart Agriculture (CSA), yaitu konsep pengelolaan pertanian dalam sistem pangan dunia untuk dapat beradaptasi dalam kondisi perubahan iklim sekaligus menjadi aktor mitigasi.

Para peneliti, akademisi, pengambil kebijakan, dan pelaku industri dari lebih 58 negara berkumpul di Ayana Resort, Bali, selama tiga hari (8–10 Oktober 2019) untuk mengikuti The 5th Global Science Conference mengenai CSA ini. Konferensi yang juga dihadiri oleh beberapa lembaga finansial dan Non-Governmental Organisation (NGO) internasional ini memiliki tema “Transforming food system under a changing climate”, dimana para peserta akan bertukar pikiran mengenai konsep perubahan sistem pangan dunia di tengah peristiwa perubahan iklim ini.

Acara ini dibuka oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian, Dr. Fadjry Djufry, M.Si. Kesediaan Fadjry untuk hadir menunjukkan bahwa Indonesia menaruh perhatian besar dalam agenda ini.  “Pertanian Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim sehingga diperlukan aksi nyata untuk menyelamatkan ketahanan pangan Indonesia berupa tindakan adaptasi sekaligus mitigasi, bersama-sama dengan komunitas global lainnya”, kata Fadjry. Peningkatan produktivitas pertanian merupakan hal yang paling utama untuk dikerjakan agar ketahanan pangan tetap terjaga. Perbaikan pengelolaan lahan pertanian secara khusus dan sistem pangan nasional secara umum harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi perubahan iklim yang terjadi.

Dr. Setiari Marwanto, peneliti Balai Penelitian Tanah-Balitbangtan yang ikut dalam acara ini menyampaikan bahwa konsep CSA bukan hanya mengenai bagaimana teknik karbon di atmosfer dapat dipindahkan ke dalam tanah sebanyak-banyaknya, namun juga mengenai perubahan cara pandang manusia terhadap semua aktor yang terlibat dalam sistem pangan mulai dari lahan pertanian, produk pertanian, proses pengolahan, hingga proses pembuangan. “Elemen dalam pengelolaan lahan pertanian adaptif dan berkelanjutan diantaranya berupa pemanfaatan sumberdaya di sekitarnya, data monitoring dan evaluasi, teknologi peramalan dan pengambilan keputusan, serta teknologi otomatisasi,” ujar Setiari. Lebih lanjut disampaikan juga bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan SDM yang berkualitas, pendanaan, dukungan politik dan kebijakan, serta infrastruktur. (SM, LRW, dan M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933