Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Demi Ketahanan Pangan Hamparan Hijau Walaupun Musim Kemarau

Bulan Oktober awal tahun 2019 merupakan bulan yang begitu terik panasnya, namun masih ada lahan sawah terlihat yang hijau di kecamatan Mentingan. Penanaman selalu diupayakan bagi sebagian petani yang memanfaatkan sumber air yang tersedia.

“Kecamatan Mantingan termasuk Kabupaten Ngawi paling barat perbatasan dengan Kabupaten Sragen, yang mempunyai luas lahan sawah 3.385 ha masih tetap tanam padi seluas 2.245 ha” (66%) kata Sukamto, Kepala BPP Mantingan. “Sebagian besar tanah di daerah Mantingan termasuk Vertisol, yang bersifat pecah-pecah lebar pada saat musim kering yang dapat memutuskan akar tanaman pangan, sementara pada musim hujan tanah menjadi lengket”. Sebagian besar lahan sawah ditanam 2 kali dan jika terdapat sumber air, petani berusaha untuk menanam 3 kali setahun”, lanjut Sukamto.

Sumur bor/pantek di sebagian besar lahan sawah di Ngawi sudah umum dijumpai di lapangan tidak terkecuali di Mantingan. Sumur bor dibuat dengan kedalaman sekitar 100 m di bawah permukaan tanah. Banyaknya air yang dapat digunakan tergantung dengan kemampuan pompa (sibel) (PK).

Menurut Mahfud Sidik, petani Desa Tambakboyo, Kec. Mantingan, ”Pompa dengan 5 PK dapat digunakan untuk mengairi lahan sawah seluas 2,5 ha, dan 15 PK dapat mengairi sawah seluas 8 ha”. ”Dengan demikian luas lahan sawah yang saat ini masih hijau terdapat sumur sebanyak 280 – 900”.

Pengairan lahan sawah menggunakan sumur bor dilakukan secara bertahap setiap seminggu sekali yang dikerjakan oleh pemilik sumur. Dalam empat kali putaran penyiraman dibutuhkan pulsa listrik dengan harga Rp 1.000.000,-. Biaya pulsa ditanggung bersama pemilik sawah dengan perjanjian memberikan 1/3 hasil padi lahan sawah garapan, misalnya hasil sawah mencapai 3 ton, pemilik sumur menerima 1 ton. Untuk luas sawah 1 ha dibutuhkan biaya Rp 7.000.000,- mulai dari pengolahan tanah sampai panen untuk pompa dengan 5 PK.

Selanjutnya, melalui diskusi dengan beberapa petani di Desa Tambakboyo, diketahui bahwa petani merasa mendapat keuntungan dengan pengembalian sebagian besar jerami ke dalam lahan setelah panen dilakukan dengan menggunakan alsintan.

Salah satu petani, Suyadi mengatakan “Panen padi dilakukan dengan treser dan combine harvester dengan tinggi potongan jerami berbeda”. “Namun demikian rata-rata tinggi jerami padi yang diukur dari permukaan tanah bervariasi antara 25,4 – 46,6 cm dengan rata-rata 36 cm”. Berdasarkan berat jerami, jumlah jerami sisa hasil panen yang ditinggalkan ke dalam lahan lebih banyak daripada yang diangkut, sekitar 60% menurut petani di Tambakboyo.

Beberapa hal yang dapat menghambat penggunaan bahan organik baik jerami sisa hasil panen maupun pupuk organi kotoran hewan, antara lain sistem sewa lahan, sistem beli usuman. Pengembalian jerami sisa hasil panen dengan cara panen saat ini terasa manfaatnya setelah 3 tahun, hal yang berubah antara lain pengelolaan lahan yang jauh lebih mudah, dan dosis pupuk anorganik menjadi lebih berkurang.

“Pupuk anorganik menjadi berkurang setelah sebagian besar sisa hasil panen dikembalikan”. “Pupuk anorganik yang digunakan saat ini adalah 125 kg Urea, 200 kg Phonska, 125 kg ZA dan 125 kg SP-36 atau terjadi penurunan 40 – 60%”, lanjut Suyadi. Dengan pemanfaatan sumber air dengan optimal di musim kemarau, ditambah dengan penggunaan bahan organik, telah dirasakan manfaatnya oleh petani. (AK, LRW, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933