Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

NTT Ingin Raih Swasembada Jagung

Rendahnya curah hujan dan dominasi lahan kering di NTT tidak menghalangi keinginan Bupati Nagekeo Bersama jajaran dan petaninya untuk mewujudkan swasembada jagung. Salah satu langkah untuk mencapainya, Focus Group Discussion (FGD) Literasi jagung telah dilakukan pada tanggal 28 September 2019 di Pondok Literasi – Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. dengan tema “Pengaruh Jenis dan Sifat Tanah terhadap Sukses Agribisnis Jagung di Kabupaten Nagekeo”.

Acara FGD dihadiri sekitar 150 orang yang terdiri atas Bupati Kepala Daerah Kabupaten Nakegeo, dua orang anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, petani, ketua kelompok tani, KTNA, PPL se Kabupaten Nagekeo, staff Dinas Pertanian, Camat, Danramil dan Kapolsek Kecamatan Aesesa, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo.

Sambutan Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, dalam acara FGD tersebut menyampaikan “Pencapaian swasembada jagung adalah sangat penting, pada minggu 1 Oktober kami akan menyusun rencana tindak lanjut pengalokasian anggarannya untuk  mendukung kegiatan tahun 2020” lebih lanjut Johanes menekankan sekali agar petani harus menggunakan bahan organik sebagai bahan pembaik tanah.

Selanjutnya ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nakegeo, Wolfgang Lena, SP., M.Si, akan membuat kegiatan kerjasama penelitian dalam pengelolaan lahan pertanaman jagung yang meliputi bidang tanah, agronomi, serta hama dan penyakit tanaman jagung dalam memperbaiki produktivitas lahan dan tanaman.

Dalam FGD ini disampaikan bahasan oleh nara sumber yang kompeten tentang (1) Sumberdaya dan Swasembada Beras di Nusa Tenggara Timur oleh Prof. Dr. Budi Indra Setiawan, Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI  (TAM) Bidang Infrastruktur Pertanian; (2) Sifat Kimia dan Kesuburan Tanah sebagai Dasar Pengelolaan Lahan untuk Tanaman Jagung, oleh Ir. A. Kasno, M.Si; (3) Sifat Biologi dan Kesehatan Tanah, oleh Ir. Jati Purwani, MSi; (4) Sifat Fisik dan Konservasi Tanah, oleh Dr. Muhammad S. Mahmuddin Nur; dan (5) Geografi Informasi Sistem dan Basis Data Tanah dan Lahan, oleh Norman P.L.B. Riwu Kaho SP., M.Sc.

     Dalam pemaparannya, Prof. Budi mengatakan “Nagekeo jangan bergantung pada produk dari luar. Nagekeo memiliki potensi pertanian yang luar biasa seperti jagung dan beras, pemerintah dan masyarakat Nagekeo perlu mengupayakan memperbanyak volume produksi, jika volume produksi meningkat bisa dikirim ke luar daerah”. Pada akhir paparannya, Prof Budi merekomendasi 8 kebijakan antara lain (1) Peningkatan produktivitas; (2) Intensitas pertanaman; (3) Percepatan dan pola tanam (penggunaan alsintan); (4) Pertanian organik (lahan percontohan); (5) Simpanan air, sistem irigasi dan tata kelola air; (6) Penyimpanan hasil (gudang) untuk cadangan beras; (7) Pengolahan hasil untuk peningkatan nilai tambah; dan (8) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan SDM.

Narasumber kedua A. Kasno menyatakan peningkatan kesuburan tanah yang dirasa penting adalah meningkatkan ketersediaan hara dengan perbaikan tanah. Perbaikan tanah dalam lahan kering beriklim kering merupakan suatu keharusan dengan penambahan bahan organik. “Pengenalan lahan garapan oleh petani sangat penting dalam upaya pengelolaan lahan pada tanaman jagung yang tepat” imbuhnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa “Pemberian bahan organik untuk memperbaiki tanah dilakukan sebelum pemupukan. Pemupukan berimbang sesuai status hara dan kebutuhan tanaman, terpadu antara pupuk anorganik dan organik perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil jagung”, kata A. Kasno.

Ahli biologi dan kesehatan tanah Jati Purwani memaparkan pada presentasinya “Peningkatan kesuburan tanah selain dengan pemupukan juga dilakukan perbaikan sifat fisik dan sifat biologi tanah akan memberikan hasil yang lebih baik”. “Selain bahan organik, pemanfaatan mikroba pupuk hayati perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan peningkatan populasi mikroba bermanfaat” ungkap Jati.

Kondisi tanah lahan sawah di Nagekeo lengket pada saat basah dan pecah pada saat kering, sehingga akar tanaman akan patah saat musim kering. Muhammad S. Mahmuddin Nur mengatakan antara lain “pemberian bahan organik berperanan untuk memperbaiki tanah secara fisika”.  “Pada lahan kering berlereng, penerapan konservasi tanah perlu dilakukan, antara lain penerapan terassering, penanaman tanaman penguat terus dan juga berfungsi sebagai sumber makanan ternak”.

Selanjutnya pada bahasan materi terakhir narasumber oleh Norman P.L.B. Riwu Kaho bahwa Sistem informasi Geospasial dan basis data tanah dan lahan merupakan sistem yang dapat digunakan untuk menilai perubahan lahan dalam beberapa kurun waktu. Pemanfaatan teknologi GIS free dapat digunakan sebagai dasar kebijakan untuk perencanaan pembangunan pertanian.

Acara selesai pukul 14.00 WITA yang diikuti secara full baik oleh seluruh peserta. Semoga awal yang baik ini akan terlaksana dengan baik dan cita-cita Bupati  dan seluruh warga NTT dapat terwujud. (AK, LRW, dan M.Is, 29 September 2019).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933