Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Menentukan Keberlanjutan Dialog Koronovia dalam Kerangka Konvensi Perubahan Iklim setelah COP26 (2020)

Pengakuan peran sektor pertanian dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di bawah kerangka konvensi PBB tentang perubahan iklim pada COP23 (2017) menjadi tonggak penting bagi pelaksanaan serangkaian lokakarya, pertemuan pakar (experts), dan perundingan sektor pertanian melalui kelompok kerja yang disebut KJWA (Koronivia Joint Work on Agriculture). KJWA menekankan pentingnya isu kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim dan dukungan untuk pencapaian ketahanan pangan. Namun demikian, untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam KJWA roadmap, kelompok kerja ini memiliki batasan waktu hingga COP26 yang akan diselenggarakan pada tahun 2020.

Dr. Setiari Marwanto, peneliti aspek tanah dan perubahan iklim Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, mendapatkan tugas untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan di markas besar FAO di Roma, Italia, dalam kaitannya dengan KJWA yang dikemas dalam judul “Third Koronivia Dialogue: Scaling up Agriculture Action to Tackle Climate Change”. Pertemuan yang diselenggarakan selama 3 hari ini (25-27 September 2019) bertujuan untuk memformulasikan pandangan-pandangan dari negara-negara yang hadir mengenai keberlanjutan KJWA setelah menyelesaikan mandatnya tahun depan, terlepas apakah hasil KJWA ini akan mendapat persetujuan dari COP atau tidak. Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga untuk memfasilitasi implementasi roadmap KJWA setelah pertemuan pertama dan kedua yang diselenggarakan pada bulan Maret dan September 2018 di tempat yang sama.

Pertemuan berjalan sangat produktif dimana negara-negara yang tergabung di kelompok G77 and China menyampaikan pandangannya mengenai visi dan misi jangka panjang KJWA hingga tahun 2030-2050, dan strategi pencapaiannya baik dalam skala nasional maupun regional, baik menggunakan skema yang ada di dalam UNFCCC atau di luar UNFCCC.  Indonesia memandang pertemuan ini sangat penting bagi experts dan negosiator untuk bertukar pandangan mengenai persiapan implementasi aksi perubahan iklim di sektor pertanian dan untuk mendapatkan informasi mendalam dan pemahaman lainnya yang sangat diperlukan dalam persiapan menghadapi COP25 di Santiago, Chili, Desember 2019 mendatang.

Secara khusus, Indonesia mendukung sikap negara-negara G77 and China lainnya untuk tetap fokus menuntut implementasi aksi adaptasi, adaptasi co-benefit, dan ketangguhan sektor pertanian sebagai agenda utama KJWA dalam mengatasi kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim dan mendukung pencapaian ketahanan pangan. Indonesia juga mendorong pentingnya inisiatif riil pihak donor pada skala lapangan berupa pembangunan dan perbanyakan pilot project pengelolaan pertanian yang adaptif, adaptif co-benefit, dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim yang berbasis sains dan berdasarkan keunikan agroekologi masing-masing negara. (SM, 27 September 2019).

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933