Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Menguatkan Sektor Pertanian Negara-Negara Anggota ASEAN dari Pengaruh Perubahan Iklim Global

Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan selanjutnya dapat mengancam ketahanan pangan suatu negara. Untuk meningkatkan ketangguhan dan daya adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim, diperlukan perencanaan yang komprehensif dan aksi nyata yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perencanaan dan aksi tersebut harus bersifat global sehingga tidak dapat dikerjakan sendiri oleh suatu negara. Diperlukan solidaritas yang kuat baik pada level lokal, nasional, dan regional dalam wadah organisasi internasional sehingga dampak perubahan iklim yang terjadi dapat ditekan semaksimal mungkin pada semua level dan aspek. Indonesia bersama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN (Association of South East Asia Nations) memiliki peran strategis dalam aksi pengendalian perubahan iklim di sektor pertanian melalui jalur Koronivia Joint Work on Agriculture (KJWA) di bawah UNFCCC (The United Nations Framework Convention on Climate Change).

Dr. Setiari Marwanto dan Dr. Edi Husen, dua peneliti aspek tanah dan perubahan iklim dari Badan Litbang Pertanian, Kementan, mendapat kesempatan untuk mengikuti acara “The ANGA Coordination Meeting and UNFCCC Negotiations Training” yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, 18-20 September 2019. Acara ini diselenggarakan oleh ASEAN Climate Resilience Network (ASEAN-CRN) dengan dukungan dari FAO dan CSLU-GIZ. ASEAN Negosiators Group on Agriculture (ANGA) merupakan wadah koordinasi bagi para negosiator negara-negara ASEAN yang didirikan oleh ASEAN-CRN sesuai dengan usulan ASEAN Ministers of Agriculture and Forestry (AMAF). Acara ini juga merupakan persiapan bagi ANGA untuk menghadiri Conference of Parties (COP) ke 25 yang diselenggarakan pada tanggal 1-13 Desember 2019 di Santiago, Chili. Dalam COP25 ini, KJWA akan membahas topik 2(d) Improved nutrient use and manure management towards sustainable and resilient agricultural systems.

Secara umum, tujuan dari acara ini adalah: i) Memperkuat kapasitas negosiasi perwakilan ANGA serta keterwakilan negara-negara anggota ASEAN (AMS) dalam negosiasi UNFCCC, ii) Memfasilitasi koordinasi antar AMS untuk mengembangkan posisi bersama pada negosiasi UNFCCC, dengan fokus khusus pada KJWA, iii) Menguatkan "identitas ANGA", iv) Membuat kesepakatan tentang kegiatan selanjutnya terkait persiapan dan keterlibatan AMS dalam COP25. Acara ini dihadiri oleh perwakilan AMS yang terlibat dalam proses KJWA dan para pihak yang terlibat dalam negosiasi UNFCCC. Pada hari pertama, diadakan pertemuan tertutup untuk ANGA (bagian 1), dan pada hari ke-2 dan ke-3 perwakilan AMS lainnya yang terlibat dalam negosiasi UNFCCC diundang untuk sharing knowledge tentang UNFCCC sekaligus pelatihan negoisasi (bagian 2).

Indonesia sebagai negara pertanian terbesar se-ASEAN sangat berkepentingan dalam proses negoisasi yang terjadi di UNFCCC dalam wadah KJWA. Indonesia juga memiliki kondisi pertanian lebih kompleks dari negara ASEAN lainnya sehingga masalah yang dihadapi juga berbeda. Meski demikian, Indonesia menyadari bahwa konsolidasi tingkat ASEAN sangat penting untuk mengefektifkan proses negosiasi pada beberapa aspek pertanian yang dipandang sama. Untuk beberapa aspek pertanian yang dipandang unik dan strategis, Indonesia memiliki kertas posisi sendiri. Keikutsertaan delegasi Indonesia secara aktif dalam acara ini diharapkan dapat menjadi lokomotif bagi kemajuan pembangunan pertanian negara-negara anggota ASEAN lainnya. (SM).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933