Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Lahan Bekas Tambang Timah Itu Kini Hijau dan Produktif

Pasca penambangan timah lahan berubah menjadi lahan terlantar meninggalkan “kolong” (danau kecil yang kedalamannya bisa lebih dari 20 m) dan meninggalkan landsekap yang berbukit kecil. Lahan bekas tambang timah juga ditandai dengan adanya tumpukan tanah yang didominasi oleh pasir kwarsa yang terbentuk dari “tailing”, yaitu tanah pasir sisa ekstraksi biji timah.  Lansekap seperti ini sulit untuk ditumbuhi oleh tanaman dan sulit untuk mendukung kehidupan jasad renik di dalam tanah serta dan sulit untuk dijadikan media hidup oleh fauna. Masalah utamanya adalah bahan organik dan hara yang sangat rendah, kemasaman tanah relatif tinggi, dan struktur tanah yang buruk sehingga tanah ini tidak mampu memegang zat hara dan air serta tidak mampu menjaga fluktuasi suhu tanah. Suhu akan sangat tinggi pada siang hari dan ini dapat mematikan tanaman dan makhluk hidup lainnya. Lahan ini dapat direhabilitasi menjadi lahan yang produktif untuk pertanian. Demikian disampaikan oleh Prof. Fahmuddin Agus, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dan koordinator penelitian rehabilitasi lahan bekas tambang timah di Desa Bukit Kijang, Kabupaten Bangka Tengah pada acara “Temu Lapang Dan Gelar Teknologi Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Timah Untuk Pertanian”, di Bukit Kijang, Kabupaten Bangka Tengah tanggal 23 Juli 2019.  Turut hadir pada acara tersebut adalah Sekretaris Daerah Bangka Tengah, Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Dinas Pangan Bangka Tengah, Kepala BPTP Kepulauan Bangka Belitung, Camat Namang, peneliti penyuluh, dan petani.

Pada lokasi ini telah dilakukan kerjasama antara Balitbangtan dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah. Dapat disaksikan  berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur seperti tanaman cabai, terong, nanas, dan tanaman hijauan pakan ternak. Tanaman hijauan pakan ternak yang sesuai bukan hanya jenis rumput dan perdu, tetapi juga bebagai jenis pohon leguminosa seperti Gliricidia, Lamtoro, Turi, Sesbania, dan sebagainya.  

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP)-Balitbangtan yang diwakili oleh Ir. Teddy Sutriadi, M.Si. (Kepala Balai Penelitian  Lingkungan Pertanian) menyampaikan bahwa ada beberapa perlakuan kunci, yang penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan lahan bekas tambang. Perlakuan kunci tersebut adalah (1) Penambahan bahan organik, (2) Pemberian pupuk, terutama pupuk nitrogen, fosfor dan kalium, dan (3) Penyiraman pada musim kemarau, terutama pada awal masa rehabilitasi sewaktu kandungan bahan organik tanah masih sangat rendah.

Bahan organik diberikan dalam bentuk pupuk kandang atau kompos. Pupuk kandang merupakan bahan organik paling unggul karena  mampu memperbaiki struktur tanah, menyediakan hara, meningkatkan daya tanah dalam memegang air, dan dapat menyangga naik-turunnya  suhu tanah. 

Untuk mendapatkan bahan organik dan pupuk kandang, cara terbaik adalah dengan memproduksi bahan tersebut di areal bekas tambang, misalnya dengan menanam tanaman penutup tanah dan rumput pakan dan dengan memelihara ternak. Adanya sumber bahan organik merupakan modal awal untuk berusahatani pada lahan bekas tambang. Amat tidak mungkin rehabilitasi lahan bekas tambang timah tanpa pemberian bahan organik. Penyediaan bahan organik akan memerlukan biaya sangat mahal dan tenaga kerja sangat banyak, kecuali bahan organik tersebut dihasilkan pada lokasi setempat.

Dalam penelitian di Desa Bukit Kijang ini, Balitbangtan relah memilih dan menguji daya adaptasi sejumlah tanaman hijauan pakan ternak yang mampu tumbuh pada lahan bekas tambang timah. Tanaman rumput dan legum (kacang-kacangan) yang dikembangkan dengan sistem pemeliharaan yang tepat, selain dapat menyuburkan tanah, juga dapat menyediakan hijauan pakan untuk ternak.  

Ir Teddy Sutriadi, M.Si. menyampaikan bahwa penelitian di Bangka Tengah ini sudah berjalan selama satu periode Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pada kabinet yang akan datang, reklamasi dan rehabilitasi lahan terlantar dan terdegradasi masih merupakan agenda penting pemerintahan. Untuk itu ada tanggung jawab bagi kita untuk melanjutkan demplot dan penelitian seperti ini. Akan tetapi bisa atau tidaknya kita melanjutkan kegiatan sangat tergantung pada keinginan petani dan kebijakan pemerintah kabupaten. Banyak kasus di mana lahan yang sudah direklamasi dan direhabilitasi ditambang kembali, sehingga usaha rehabilitasi menjadi sia-sia.

Lahan bekas tambang bukan merupakan lahan yang ideal untuk pertanian karena banyak masalah kesuburan dan masalah status lahan. Namun perlu kita pahami bersama bahwa sumberdaya lahan pertaniannya semakin menyempit sehingga perluasan lahan ke depan tidak mungkin tergantung pada lahan yang subur, karena lahan yang subur pada umumnya sudah digunakan untuk berbagai keperluan. Dengan demikian lahan bekas tambang merupakan pilihan untuk perluasan lahan pertanian.

Lokasi penelitian di Bukit Kijang ini telah dijadikan sebagai obyek kunjungan berbagai lembaga, baik dari tingkat nasional, maupun dari provinsi dan kabupaten. Lokasi Demplot ini juga telah dijadikan obyek kunjungan oleh peneliti, mahasiswa dan siswa untuk menyaksikan apakah lahan tandus bekas tambang dapat dijadikan lahan produktif. Tidak kalah pentingnya, lokasi ini telah dijadikan areal kunjungan oleh petani. Mengingat pentingnya peran demplot ini, maka seyogiyanya lokasi ini dipertahankan sebagai lokasi demplot. Untuk itu Kepala BBSDLP mengharapkan dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.

Dalam pidato sambutan dan pembukaan, Bupati Bangka Tengah yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Bangka Tengah, Drs. Sugianto, M.Si. menyampaikan apresiasi dan menyatakan komitmen untuk tetap mendukung kegiatan penelitian ini. ’’Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kepala Badan Litbang Pertanian selama empat tahun terakhir telah melaksanakan penelitian rehabilitas lahan bekas tambang timah. Lahan yang sebelumnya tandus dan tidak menentu bentuknya, sekarang sudah menjadi lahan hijau yang dapat menghasilkan berbagai jenis tanaman, termasuk hijauan pakan ternak. Hijaunya dan kembali produktifnya lahan bekas tambang penting bagi kita semua” ujar Beliau.

Lebih lanjut beliau menyampaikan agar teknologi rehabilitas lahan bekas tambang timah tersebut ditransfer ke petani. Beliau juga terkesan dengan berbagai koleksi tanaman hijauan pakan dan melakukan panen hijauan secara simbolis. Sekda Bangka Tengah juga terkesan dengan teknologi fertigasi (fertilization and irrigation) yang dipercontohkan pada lokasi ini untuk memproduksi tanaman cabai. Berbagai jenis tanaman dapat ditanam dengan sistem fertigasi ini, namun karena biaya awal yang relatif tinggi, maka perlu dipilih jenis tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti cabai, ujar Dr. I. Made Subiksa, peneliti pada Balai Penelitian Tanah, Balitbangtan. 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933