Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Pembahasan Isu Perubahan Iklim Sektor Pertanian Mengalami Peningkatan yang Signifikan pada SBSTA/SBI-50

Prof (R). Dr. Fahmuddin Agus dan Dr. Setiari Marwanto, peneliti aspek tanah dan perubahan iklim dari Badan Litbang Pertanian, Kementan, menjadi Delegasi Republik Indonesia (DELRI) untuk bernegosiasi mengenai isu  Sektor Pertanian pada pertemuan Bonn Climate Change Conference/BCCC yang merupakan pertemuan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bonn, Jerman, tanggal 1727 Juni 2019. Putaran pertemuan kali ini disebut juga dengan pertemuan Subsidiary Body for Scientific and Technical Advice ke 50 dan Subsidiary Body for Implementation (SBSTA-50 dan SBI-50).  

Topik utama pertemuan yang diikuti adalah SBSTA dan SBI tentang pertanian, pertemuan koordinasi negara berkembang dan Cina (G77+China) tentang pertanian, serta sejumlah pertemuan tambahan (side events).   

Rangkaian pertemuan tentang pertanian disebut juga dengan pertemuan Koronivia Joint Working Group on Agriculture (KJWA). Pada putaran SBSTA-50 dan SBI-50, aspek yang dibahas oleh KJWA adalah a) Hasil workshop Katowice Polandia pada SBSTA/SBI-49 tentang modalitas implementasi adaptasi pada sektor pertanian, b) Metode penilaian adaptasi, manfaat tambahan dari adaptasi, dan ketahanan system pertanian terhadap perubahan iklim, dan  (c) Peningkatan karbon tanah, kesehatan tanah, dan kesuburan tanah pertanian dan lahan peternakan. Beberapa side events yang diikuti antara lain tindak lanjut KJWA Workshop, Implementasi Nationally Determined Contribution (NDC) terkait peningkatan karbon tanah, dan Global Landscape Forum.  

Intervensi delegasi Indonesia adalah untuk mendukung pembahasan agenda KJWA, namun Indonesia juga mengingatkan bahwa muara dari KJWA adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan. Dengan demikian, ketahanan pangan perlu dijadikan indikator utama dalam penilaian adaptasi. Selain itu peningkatan nilai tambah (co-benefits) dan ketangguhan sistem pertanian juga perlu dijadikan indikator tambahan. 

Tentang topik perbaikan karbon dan kesehatan tanah, Indonesia menyampaikan bahwa cukup banyak pilihan teknologi menuju perbaikan karbon tanah, namun entry point yang perlu digunakan adalah peningkatan pendapatan sebagai bahasa yang mudah dipahami oleh petani, bukan peningkatan karbon tanah. Indonesia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas penyuluhan pertanian terkait adaptasi dan nilai tambah adaptasi, serta ketangguhan sistem pertanian menghadapi perubahan iklim. Penyuluh harus ditingkatkan kemampuannya agar mampu memfasilitasi petani untuk membangun atau memilih sistem yang mampu meningkatkan pendapatan dan sekaligus meningkatkan ketangguhan sistem pertanian terhadap perubahan iklim. (Setiari, 21 Juni 2019).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933