Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Field Visit Tim RDA-AFACI, Korea dan Balittanah, Balitbangtan ke Lokasi Desa Organik di Jawa Tengah

Kegiatan field visit tersebut dilakukan pada tgl 11-13 Juni 2019 yang didahului dengan kunjungan instansi dan diskusi di Balittanah, Direktorat Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Jakarta dan Distanbun Provinsi Jawa Tengah di Ungaran.

Di Balittanah, Tim AFACI (Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative) yg  terdiri atas Byong-Go Ko, Ph.D. (Direktur Divisi  Pertanian Organik) dan Jongho Park (Peneliti)  diterima oleh Ibu Kepala Balittanah (Dr. Husnain) dan Tim Peneliti Balittanah untuk Kegiatan ANSOFT (The Asian Network for Sustainable Organic Farming Technology)-AFACI.

Pada kesempatan tersebut Ibu Kepala Balittanah bersama Tim Peneliti menyampaikan status progres kegiatan ANSOFT Indonesia yang akan berakhir pada Juli 2019. Ada petunjuk dari Tim AFACI  bahwa kegiatan ANSOFT mungkin akan ada kelanjutannya. Selanjutnya Tim AFACI didampingi Tim Peneliti Balittanah berkunjung dan diskusi dengan Kasubdit dan staf Direktorat Serealia, Jakarta yang menangani kegiatan pengembangan desa organik berbasis komoditas tanaman pangan (padi).

Tim AFACI tertarik untuk mengetahui data dan informasi mengenai Program Desa Organik, baik tingkat nasional, provinsi, maupun implementasinya di lapangan. Di tingkat provinsi Tim AFACI dan Balittanah memperoleh data dan informasi yg dimaksud langsung dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov.Jawa Tengah.

Selanjutnya Tim diarahkan untuk terjun ke lokasi desa organik, yaitu Desa Kelurahan, Kec. Jambu, Kab. Semarang (berbasis tanaman perkebunan kopi), Desa Batur, Kec. Getasan, Kab. Semarang (berbasis sayuran), Desa Sumberejo, Kec. Ngablak, Magelang (berbasis sayuran) dan Desa Sawangan, Kec. Sawangan, Magelang (berbasis padi). Desa Batur, Getasan merupakan lokasi kegiatan ANSOFT Indonesia sehingga Tim AFACI saat itu sekaligus melakukan monitoring lapangan dan berdiskusi dengan para petani setempat.

Berdasarkan definisi dari Direktorat Serealia: Desa Organik berbasis tanaman padi itu jika sudah ada usahatani padi organik seluas 20 ha yang dikelola oleh petani secara berkelompok (Poktan padi organik). Pembangunan desa organik diawali dengan bimbingan teknis dan bantuan Saprodi (benih, Pupo, Puhay, UPPO=Unit Pengolahan Pupuk Organik atau APPO=Alat Pengolahan Pupuk Organik) melalui Poktan serta biaya untuk sertifikasi organiknya.

Implementasi pembangunan desa organik dimulai sejak th 2016 yang ditargetkan sebanyak 1.000 desa organik hingga akhir tahun 2019 ini.  Salah satu kendala  di lapangan adalah sertifikasi organik, selain prosesnya perlu waktu (lebih dari satu tahun) juga biayanya mahal sehingga belum semua basis komoditas di desa organik itu "organic certified". Pemasaran organik juga masih jadi kendala, terutama serapan pasar organik itu baru sekitar 25-30%, seperti disampaikan oleh petani kopi dan sayuran.

Produk organik lainnya dijual pada pasar konvensional. Usahatani organik masih menguntungkan karena harga jual pada pasar organik cukup tinggi (2-5 kali lipat) dan biaya usahataninya relatif lebih murah daripada usahatani konvensional. Produktivitas usahatani organik yg sudah berlangsung sekitar 2 tahun (4-5  MT padi) tidak kalah daripada usahatani konvensional, bahkan cenderung lebih tinggi setelah lebih lama dari itu dengan penggunaan Pupo yg konsisten, sebagaimana dinyatakan oleh Bpk Kepala Distanbun Jawa Tengah. (Irw, SS, SR, dan M.Is, 13 Juni 2019).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933