Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Untuk mendukung percepatan pembangunan pertanian dengan target swasembada pangan antara lain jagung dan pelestarian lingkungan, seperti yang tertuang di dalam program Nawacita pemerintah, maka kementerian pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah membangkitkan potensi lahan kering masam di Desa Gunung Raja, Kecamatan Bati Bati, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan melalui pengembangan tanaman jagung dengan menerapkan paket teknologi rekapitalisasi fosfat alam, penanaman sistem zigzag dan pemupukan berimbang.

Secara nasional, lahan kering masam di Indonesia cukup luas yaitu 102,8 juta ha dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai areal pertanian yang produktif asal dikelola dengan baik. Namun masih dijumpai banyak kendala antara lain kemasaman tanah yang tinggi atau pH tanah rendah. Kandungan hara N, P, dan K serta bahan organik rendah. Ketersediaan hara P rendah karena terfiksasi oleh Al yang tinggi.

Teknologi rekapitalisasi fosfat alam reaktif yang dikombinasikan dengan sistem tanam zigzag dan penerapan pemupukan berimbang merupakan teknologi unggulan dalam pengelolaan lahan kering masam. Fosfat alam reaktif dari Maroko merupakan pupuk sumber hara P yang termasuk Grade A karena selain mengandung hara P juga mengandung Ca yang cukup tinggi, yaitu 30%.

Paket tekonologi pengelolaan lahan untuk meningkatkan hasil jagung pada lahan kering masam, antara lain: (1) Aplikasi fosfat alam reaktif; (2) Pemberian kapur pertanian/dolomit; (3) Bahan organik (pupuk kandang ayam atau sapi); (3) Sistem tanam zigzag (4) Pupuk urea sebagai sumber N; dan (5) Pupuk KCl sebagai sumber K.

Budidaya tanaman jagung yang dilakukan yang dapat mendukung peningkatan hasil jagung, antara lain: (1) Pemilihan varietas ; (2) Penggunaan jarak tanam zig zag (70 x 35 x 12,5 cm); (3) Pembumbunan dilakukan sampai 2 kali dalam semusim; (4) Panen; (5) Pasca panen.

Berdasarkan data statistik tahun 2017 luas tanaman jagung di Kecamatan Bati-Bati 594 ha dengan tingkat produktivitas rata-rata 5,23 t/ha. Namun dengan penerapan teknologi baru, maka hasil panen jagung di tingkat petani meningkat menjadi 17,2 t/ha tongkol atau + 10,22 t/ha jagung pipilan kering.

Menurut petani, dengan harga yang berlaku saat ini, keuntungan bersih yang dapat dicapai oleh petani tidak kurang dari Rp 25 juta per hektar. Dampaknya, petani bergembira, dan semangat menanam jagung lagi. Sebagian petani sudah dapat membeli mobil dari hasil menanam jagung. (AK, WS, M.Is, 22 Feb 2019).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933