1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13

Pemugaran Lahan Kering Bereaksi Asam dan Marginal

Indonesia memiliki luasan lahan masam sekitar 104 juta Ha yang mencakup 68% dari total luasan lahan pertanian (148 juta Ha), yang terutama tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Kedepan pengembangan lahan pertanian diarahkan pada lahan masam tersebut. Sekitar 47 juta Ha lahan masam berpotensi untuk dikembangkan  sebagai lahan pertanian maupun perkebunan produktif. Saat ini lahan masam di Sumatera dan Kalimantan secara luas dimanfaatkan untuk tanaman pangan terutama jagung dan kedelai dan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.

Diskusi untuk menggali besarnya potensi lahan kering masam untuk pertanian telah dilakukan pada Lokakarya sehari dengan tema “Pemugaran lahan kering bereaksi asam dan marginal” di Aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Senin, 29 Oktober 2018. Lokakarya dihadiri oleh civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Peneliti dari Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, Peneliti Dari BPTP Lampung, Bappeda Provinsi Lampung, Dinas Pertanian Provinsi Lampung dan beberapa daerah tingkat II se Provinsi Lampung, serta pihak swasta. Narasumber yang berkesempatan menyajikan materinya antara lain Prof. Dr. Muhajir Utomo, M.Sc dan Prof. Dr. Irwan Sukri Banuwa, M.Si dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Dr. Husnain dari Balai Penelitian Tanah Bogor, dan Prof. Dr. Ir. Dedik Budianta, M.Si dari Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Palembang.

Dalam paparannya, Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Husnain, menyampaikan bahwa pemanfaatan lahan masam banyak menghadapi kendala, antara lain tingkat kemasamannya tinggi (pH tanah yang rendah), kesuburan tanahnya rendah akibat mudahnya unsur hara tercuci dan diikat oleh mineral liat dalam tanah. Salah satu kendala pemanfaatan tanah masam adalah fiksasi P oleh mineral sesquoksida (Al2O3dan Fe2O3). Walupun banyak kendala, dengan pendekatan penerapan teknologi secara terpadu, lahan kering masam dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif. Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa salah satu teknologi untuk mengatasi kehilangan P di lahan masam adalah menggunakan batuan fosfat alam (rock phosphate). Rock phosphate adalah sumber hara P yang bersifat lepas lambat (slow release) karena merupakan bahan mineral alami dan memiliki efek residu hingga beberapa musim tanam.

Rock phosphate (batuan fosfat alam) adalah sumber hara P yang berasal dari mineral. Rock phosphate ditambang secara alami dan banyak terdapat di berbagai negara. Indonesia juga memiliki RP namun kualitasnya sangat bervariasi dan kurang menguntungkan untuk ditambang. Negara dengan cadangan P terbesar di dunia adalah Maroko (75%), Tiongkok (6%), Algeria dan Syria (3%), Jordan, Afrika Selatan, USA dan Russia sekitar 2%, Peru dan Saudi Arabia sekitar 1% dan sisanya 3% negara lain. Rock phosphate adalah bahan baku sumber hara P dalam pembuatan pupuk P seperti SP-36, TSP dan DAP yang larut air sehingga cepat tersedia bagi tanaman. Untuk memproduksi pupuk tersebut, maka rock phosphate perlu diekstrak terlebih dahulu untuk menghasilkan asam fosfat untuk kemudian diproses menjadi pupuk di atas. Alternatif sumber hara P adalah pemanfaatan secara langsung (direct use) rock phosphate sebagai pupuk tanpa proses apapun. Ini menjadi alternatif sumber pupuk P yang lebih murah bagi petani. Penggunaan rock phosphate sangat efektif untuk lahan masam dibandingkan dengan lahan tidak masam. Hal ini karena RP mengandungun sur hara lain terutama Ca (kalsium) yang berperan dalam menurunkan tingkat keasaman tanah atau meningkatkan pH tanah.  Sementara itu lahan kering di Indonesia didominasi oleh lahan kering masam. FAO telah merekomendasikan penggunaan rock phosphate untuk tanaman pangan maupun perkebunan. Penggunaan rock phosphate di Indonesia masih sangat jarang karena beberapa hal diantaranya: 1) akses mendapatkan rock phosphate tidak tersedia, dan 2) belum banyak dikenal oleh petani.

Penggunaan batuan fosfat alam (rock phosphate) memiliki keuntungan sebagai berikut: bersifat lepas lambat (slow release) dalam arti unsur hara P dilepas secara perlahan sehingga P lebih efektif dapat diserap oleh tanaman, serta memiliki efek residu, dengan sifat lepas lambat maka pengaruhnya terhadap tanaman lebih lama. Penggunaan RP dengan dosis yang cukup akan menghemat tenaga kerja dan biaya input produksi dari pupuk P karena RP hanya diaplikasi sekali dalam beberapa musim tanam. (I Wayan Swastika dan Tim Medsos Balittanah, 30 Oktober 2018).

Hubungi Kami

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933