1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13

Organic Farming Hadir di Spekta Horti 2018

Dalam ajang Spekta Horti yang berlangsung di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Bandung dari 20-23 September 2018, Balai Penelitian Tanah (Balittanah) telah menampilkan teknologi “organic farming” sayuran dataran tinggi yang ramah lingkungan dan sehat. Teknologi pertanian organik Balittanah ini di kawal oleh Dr. Wiwik Hartatik dan Dr. Diah Setyorini.

Di areal lahan seluas sekitar 700m2 yang terbagi menjadi dua blok, ditanam berbagai jenis tanaman sayuran dalam bedengan berukuran sekitar 1m x 10m atau lebih panjang sesuai kondisi lahan. Teknologi yang diterapkan adalah:

a. Jenis tanaman dalam setiap bedengan merupakan integrasi antara tanaman : (1) sayuran berbuah (terong, buncis tegak) atau berbunga (brokoli) atau berumbi (bit) yang membutuhkan unsur hara tinggi dan berumur panjang dengan (2) sayuran berdaun (seledri, selada head) yang sedikit membutuhkan unsur hara dan berumur pendek atau tanaman legun (kacang-kacangan) yang dapat memfiksasi nitrogen secara alami. Pada pinggiran bedeng ditanam tanaman legum (arachis pintoi, sesbania rostrata, crotalaria juncea) dan tithonia yang bahan hijauannya dapat digunakan sebagai sumber pupuk hijau.

b. Pengelolaan hara. Pupuk organik padat yang digunakan berasal dari kotoran kuda dengan dosis 20t/ha dikombinasikan dengan pupuk organik cair. Selain itu dalam setiap bedengan dibuat bak kompos progresif untuk menampung sisa tanaman panen dan rerumputan di sekitar bedengan.

c. Pencegahan hama penyakit tanaman dilakukan dengan menanam plant repellent (serai, kemangi, kenikir, lavender) di sekeliling atau diselipkan diantara pertanaman sayuran. Dengan adanya aroma dari tanaman dan bunga yang warna-warni tersebut, serangga tidak akan mengganggu pertanaman utama.

d. Konservasi tanah dan air perlu diterapkan karena sayuran dataran tinggi umumnya ditanam di lahan berteras dan rawan erosi. Tananam rumput sebagai penguat bedeng dari jenis paspalum ditanam di sekeliling bedengan, sedangkan mulsa jerami disebarkan diatas permukaan bedengan agar terhindar dari erosi akibat hujan.

Salah satu pengunjung yang bertugas sebagai PPL pembina kelompok tani organik dari Dinas Pertanian Jambi cukup intensif bertanya tentang budidaya sayuran organik. Hal yang ditanyakan terkait dosis pupuk organik, jenis-jenis bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik, mengapa perlu pola tanam tumpangsari, dan lain-lain.

Salah satu operator sayuran organikk dari Desa Banjaran Ciwedey Kabupaten Bandung berniat memulai kembali bertani organik setelah sekitar 10 tahun ditinggalkan. Diatas lahan sekitar 6 hektar miliknya akan dibudidayakan kembali sayuran dataran tinggi yang nantinya akan dipasarkan ke supermarket di kota Bandung dan Jakarta.

Ibu Nane dari Milelea Organic selaku pengusaha retail yang mempunyai beberapa outlet produk organik di Bekasi dan Jakarta berkeinginan untuk menjalin kerjasama dengan beberapa operator organik untuk memasarkan produk organik seperti teh, bumbu dan rempah, beras, madu, ternak (ayam dan telor), dan lain-lain.

Diharapkan Balittanah dapat memfasilitasi terjadinya temu produsen dan operator organik di wilayah Bogor dan Jakarta. (Tim Medsos Balittanah, 22 September 2018).

Hubungi Kami

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933