1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13

Lahan Bekas Tambang di Bangka Tengah......Menjanjikan

Kunci pengelolaan lahan bekas tambang adalah investasi bahan organik baik kompos sisa-sisa tanaman maupun pupuk kandang. Setelah itu, yang lain-lain nya gampang, bahan organik masuk ke tanah, selanjutnya pemupukan bisa memakai urea, SP-36, KCl, atau pupuk NPK  setelah bahan organik masuk. Cara tersebut akan memberikan pertumbuhan tanaman yang sangat maksimal. Salah satu fungsi bahan organik adalah memperbaiki sifat fisik tanah.

Hanya saja masalahnya adalah menyediakan bahan organik, kalau didatangkan dari luar lokasi akan mahal (distribusi angkutnya mahal dan bahan organiknya mahal), oleh karena itu, tanaman legum dan rumput-rumputan sebagai sumber bahan organik harus ditanam sendiri di sini (di lokasi penelitian). 

Pengelolaan tanaman sebaiknya dikombinasikan dengan ternak sebagai produsen pupuk kandang yang akan dikembalikan lagi ke lahan. Lahan akan menghasilkan hijauan pakan ternak dan brangkasan sisa panen yang akan dimakan oleh ternak. Ternaknya selain akan menghasilkan daging juga akan menghasilkan kotoran ternak yang akan dibuat kompos dan kembali lagi ke lahan. Jadi ada Siklus Karbon yang tertutup, tanaman-ternak-tanah, sehingga betul-betul efisien tidak ada energi yang terbuang.

Tanah di lokasi penelitian adalah tanah kuarsa (tanah pasir) yang kadar unsur haranya rendah yang gampang “bablas” dan tergerus air. Begitu hujan turun, unsur hara dalam tanah itu hilang, oleh karena itu perlu ditambah bahan organik yang bisa memegang air dan bisa memegang unsur hara.

Air dan unsur hara diperlukan oleh tanaman. Jadi kuncinya “Biarlah si tanah itu memegang air dan unsur hara dengan bahan organik tadi sehingga tanaman bisa minum dan makan setiap saat. Sehingga tanaman bisa tumbuh dengan subur dengan penambahan bahan organik ini.

Secara mineralogi tanah, yang tersedia di dalam tanah untuk tanaman terdapat logam Pb, kromium, dan Hg semuanya dalam konsentrasi yang cukup rendah bervariasi antara 0,2 sampai 0,5 ppm yang tidak berbahaya untuk tanaman di lahan kering. Kemudian ada juga logam Hg dalam satuan ppb ini sangat rendah di dalam tanah jadi tidak bermasalah. Sehingga dari seluruh rangkaian analisa tanah, dari logam berat dan logam berat yang tersedia dapat dikatakan bahwa lahan bekas tambang ini tidak mengandung logam berat diatas ambang batas yang membahayakan. Sehingga kita tidak perlu khawatir bahaya logam berat pada lahan bekas tambang.

Sifat tanah di kepulauan Bangka Belitung umumnya adalah tanah yang berpasir berasal dari tailing, bahan hasil galian. Tanah berpasir adalah tanah regosol, kemudian tanah aluvial. Kandungan pasirnya cukup tinggi, unsur haranya rendah sampai sangat rendah. Karena sifat-sifat yang demikian sehingga diperlukan bahan organik, pemupukan berimbang, dan perlu diberikan air secukupnya karena tanah ini mudah sekali kering apabila kekurangan hujan. Jadi penambahan air secara rutin akan mencegah tanaman kekeringan khususnya tanaman-tanaman yang berakar dangkal.

Pengelolaan lahan bekas tambang dengan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Antara lain menanam cover crop (tanaman penutup tanah) sebagai tanaman pionir di lahan berkas tambang, membudidayakan tanaman pagar, dan bahan organik. Pencegahan erosi dengan (1) penanaman rumput pada lereng dan legum menjadi salah satu pemecahan dalam mencegah atau mengurangi efek erosi tanah; (2) membuat teras guludan, bentuk tangga (bangku), strip rumput atau tumpukan batu; (3) pengelolaan tanah pucuk sebagai media tanam.

Rumput dan legum mengandung protein dan mineral yg dibutuhkan oleh ternak. Legum bisa mengsubstitusi pakan konsentrat yg relatif mahal bagi petani. Tanaman pakan ternak tersebut multi fungsi selain sebagai sumber hijauan pakan ternak juga sebagai sumber bahan organik dan pengontrol erosi serta tanaman penutup tanah bahkan dapat meremediasi lahan bekas tambang.

Dari hasil analisis finansial usahatani di reklamasi lahan bekas tambang ini memang di tahun pertama butuh biaya besar untuk bahan organik, perataan tanah dan lain-lain tetapi setelah kebutuhan yang pertama besar itu sebetulnya di musim berikutnya dan tahun-tahun berikutnya kita akan dapat hasil yang jauh lebih besar lagi diluar perhitungan bahan organik dan perataan tanah. Keuntungan misalnya dari tanaman hortikultura (contoh: cabai dan sayuran) cukup besar”. Dan juga tergantung jenis tanaman yang dipilih oleh petani.

Tetapi yang utama adalah membuat lahan yang tadinya “Nol” pendapatan mampu memberikan penghasilan yang besar kepada petani sehingga menimbulkan pemikiran positif bahwa lahan bekas tambang yang sudah sangat buruk itu tetap masih bisa menjadi sumberdaya ekonomi yang menguntungan.

Masih diperlukan informasi yang bersifat kuantitatif mengenai keperluan bahan organik, kompos dan lamanya waktu yang diperlukan untuk merehabilitasi lahan bekas tambang, serta potensi hasil komoditas yang dapat dikembangkan. Informasi tersebut sangat diperlukan oleh petani/investor yang akan mengelola lahan bekas tambang.

(Moch. Iskandar, hasil wawancara dengan berbagai sumber, antara lain: Ka. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbangtan, Kementan; Peneliti BBSDLP; Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan; Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian; dan Peneliti Balai Penelitian Tanah. 16/03/2017).

 

Hubungi Kami

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933