1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13

Berita Terbaru

Bimtek Pembukaan Lahan Tanpa Bakar dan Optimalisasi Sistem Usahatani Padi Sawah

Pangkalan Bun adalah salah satu wilayah yang mempunyai permasalahan dari pengelolan lahan dengan cara membakar vegetasi lahan rawa. Kegiatan ini dilakukan oleh para petani/peladang pada saat persiapan tanam.  Untuk mengurangi kegiatan seperti di atas pemerintah setempat sudah menghimbau kepada para petani/peladang untuk melakukan pembukaan lahan tanpa bakar. 

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi tersebut di atas, Balai Penelitian Tanah (Balittanah) sebagai salah satu instansi yang selama ini banyak menghasilkan teknologi untuk mendukung terciptanya pertanian yang berkelanjutan, memberikan salah satu solusi berupa teknologi pengelolaan tanpa bakar dengan mengoptimalkan mikroba pengurai sisa tanaman berlignin tinggi yang diformulasi sebagai dekomposer yang diaplikasikan ke biomasa sisa vegetasi lahan rawa.  

Pada hari ini, Senin tanggal  12 November 2018 telah diadakan bimbingan teknis (Bimtek) tentang Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, yang dilaksanakan di Desa Kumpai Batu Atas Arut Selatan, Kabupaten Pangkalan Bun.

Acara ini dibuka oleh Wakil Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Waringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Selanjutnya Kepala Balittanah, Dr. Husnain, dalam kata sambutannya mengatakan dengan adanya Bimtek tersebut dapat menjadi alternatif pembukaan lahan tanpa bakar sehingga petani dapat kembali bercocok tanam setelah 3 - 4 tahun  vakum bercocok tanam padi.

Sebagai Narasumber yang memberikan materi adalah (1) Dr. Sukarman dari BSDLP dengan materi : Jenis Tanah dan Kesesuaian Lahan di Wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat; (2) Dr. Rohani Cinta BG dengan materi Pemanfaatan kompos biomasa sebagai alternatif persiapan lahan tanpa bakar; (3) Dr. Neneng L. Nurida dengan materi : Pemanfaatan Biochar untuk mendukung persiapan lahan tanpa bakar; (4) Dr. Wiwik Hartatik dengan materi : Pemupukan berimbang untuk mendukung persiapan lahan tanpa bakar; (5) Dr. Khairil dengan materi : Pengelolaan air untuk pengembangan padi sawah pada lahan rawa tipe luapan A di Kabupaten Kotawaringi  Barat. Selain materi, Balittanah juga memberikan praktek yaitu (1) Dr. Diah Setyorini praktek kesuburan tanah PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa); (2) Dr. Rohani Cinta BG praktek pengomposan; dan (3) Dr. Neneng L.N. praktek pembuatan biochar.

Kegiatan bimtek ini dihadiri oleh Camat, Babinsa, Kades, perangkat desa serta petani Kumpai Batu Atas Arut Selatan, serta melibatkan juga ketua masarakat adat.  Peserta yang hadir berjumlah 115 orang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya para petani, mengenai Pembukaan Lahan Tanpa Bakar dan Optimalisasi Sistem Usaha Tani Padi Sawah. (Tim Medsos Balittanah, 12 November 2018).

Optimalisasi Pelaksanaan Program UPSUS PAJALE dan BEKERJA Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang

Bimbingan Teknis dalam rangka Pelaksanaan Kegiatan UPSUS PAJALE untuk wilayah kerja Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang telah dilaksanakan pada hari Senin, 5 November 2018 di Aula Balai Penelitian Tanah Cimanggu Bogor, Jawa Barat. Tema bimtek adalah “Optimalisasi Pelaksanaan Program UPSUS PAJALE dan BEKERJA Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang”.

Bimtek dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta yang terdiri atas Para Kabid di lingkup Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu dan Sumedang serta Koordinator Penyuluh di masing-masing kecamatan se wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang. Bimtek juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayau, Ir. Tahmid, MM. Tujuan dari dilaksanakannya Bimtek ini adalah untuk meningkatkan pemahaman para peserta terhadap teknologi terkini yang sedang berkembang untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan terutama padi, jagung dan kedelai, antara lain teknologi pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengembangan mikroorganisme lokal (MOL), serta adaptasi pengelolaan lahan dan irigasi hemat air.

Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Husnain, M.Sc dalam sambutannya menyampaikan bahwa upaya untuk meingkatkan produktivitas tanaman tidak bisa dilepaskan dari inovasi teknologi baru yang terus berkembang, oleh karena itu Bimtek ini menjadi sangat relevan dengan upaya Pemberintah untuk meningkatkan produktivitas berbagai komoditas antara lain padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah, dan tebu, melalui penerapan inovasi teknologi baru.

Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Karantina Tanaman Kementerian Pertanian, Ir. Banun Harpini, M.Sc, yang bertindak sebagai Penanggungjawab UPSUS wilayah Jawa Barat. Kepala Badan Karantina Tanaman, Ir. Banun Harpini, M.Sc dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kepala Balai Penelitian Tanah yang telah memprakarsai dan menyelenggarakan acara Bimtek. Diharapkan agar Bimtek ini dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan pembangunan pertanian khususnya di Kabupaten Indramayau dan Kabupaten Sumedang, serta Jawa Barat pada umumnya.

Selain itu, Kepala Badan Karantina Tanaman juga berharap agar para peserta mengikuti acara Bimtek dengan baik sehingga mendapatkan wawasan yang baru tentang pertanian yang modern. Para penyuluh pertanian sebagai garda terdepan pembangunan pertanian perlu senantiasa menambah wawasan dan selalu up date terhadap inovasi teknologi yang terkini. Hal ini terkait dengan semakin kompleknya permasalahan yang dihadapi di lapangan sehingga menuntut kemampuan petugas untuk selalu siap dengan berbagai jalan keluarnya. Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius ditekankan juga Ibu Kepala Badan Karantina Tanaman antara lain terkait dengan penggunaan sumberdaya air yang di musim kemarau sering langka. Jika tidak dikelola dengan baik, maka kelangkaan air bisa menimbulkan masalah sosial. Pada akhir sambutannya, ditekankan bahwa kunci agar pertanian berkesinambungan maka harus selalu berinonvasi, atau inovasi tiada henti, serta kerja keras, sehingga pembangunan pertanian yang menyejahterakan seluruh petani bukan sesuatu yang utopis.

Setelah penyajian materi oleh para narasumber, dilakukan diskusi. Dalam diskusi umum, banyak pertanyaan yang muncul dari para peserta Bimtek, antara lain yang terkait dengan upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan terutama padi, jagung dan kedelai dengan menerapkan konsep pemupukan berimbang karena permasalahan yang dihadapi di lapangan adalah sering langkanya pasokan pupuk di warung-warung sarana produksi. Kelangkaan pasokan pupuk yang dihadapi baik balam bentuk jenis yang tersedia, waktu ketersediaan, dan jumlah yang tersedia sering tidak sesuai dengan yang dibutuhkan para petani. Dalam diskusi juga muncul berbagai permasalahan terkait dengan kelangkaan tenaga kerja pada saat dibutuhkan tenaga kerja banyak misalnya pada saat pengeringan hasil panen.

Acara Bimtek diakhiri dengan kunjungan ke Laboratorium Terpadu Balittanah, yaitu Laborium Kimia Tanah, Laboratorium Mineralogi Tanah, dan Laboratorium Fisika Tanah. (I Wayan Swastika dan Tim Medsos Balittanah, 5 November 2018).

Membangkitkan Potensi Lahan Bekas Tambang Timah di Bangka

Lahan bekas tambang timah merupakan lahan yang sangat tidak subur. Lahannya diselang selingi kolong, tanah tailing-nya didominasi oleh pasir kwarsa yang hampir tidak mengandung zat hara; kandungan bahan organik tanahnya sangat rendah, dan adakalanya mengandung logam berat yang berbahaya untuk kesehatan manusia dan ternak. Dengan demikian sulit bagi tanaman untuk tumbuh karena air dan hara tidak tersedia dalam jumlah yang cukup. Selain itu, suhu tanah tailing cepat menjadi panas pada siang hari sehingga tidak dapat mendukung pertumbuhan akar tanaman. Pengembangan lahan bekas tambang timah ke depan menjadi semakin strategis terkait dengan semakin tingginya permintaan akan produksi pertanian karena peningkatan jumlah penduduk. Di samping itu tanah-tanah yang subur semakin sulit didapatkan karena sudah digunakan untuk berbagai keperluan. Akibatnya untuk mendapatkan lahan pertanian kita perlu mencari alternatif sumberdaya lahan dan salah satu di antaranya adalah lahan bekas tambang timah.

Pengelolaan yang tepat dan sesuai dengan karakteristik tanah, maka secara teknis lahan-lahan bekas tambang dapat dijadikan areal pertanian yang produktif, kuncinya adalah penambahan pupuk kandang atau pupuk kompos, pemberian pupuk, dan ada kalanya pemberian air atau penyiraman. Pupuk kandang atau kompos yang perlu diberikan bisa mencapai 30-50 ton per hektar. Kompos yang berasal dari pupuk kandang merupakan perlakukan kunci karena selain menyediakan hara, juga dapat meningkatkan daya tanah dalam memegang air dan dapat menyangga naik-turunnya suhu tanah. Kompos atau pupuk kandang bisa didapatkan dengan menanam tanaman penutup tanah dan rumput pakan dan dengan memelihara ternak seperti sapi. Dengan dua modal ini, selanjutnya akan dapat dikembangkan berbagai jenis tanaman pertanian.

Lahan bekas tambang timah yang tadinya ditinggalkan karena kurang produktif, dengan sentuhan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahannya, maka daerah tersebut dapat dikembangkan menjadi areal pertanian yang produktif. Pengalaman selama 3 tahun terakhir menunjukkan bahwa lahan bekas tambang timah di Desa Bukit Kijang, Kab. Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung “dapat disulap” menjadi lahan pertanian produktif. Tidak banyak yang menyangka, jika di lahan seluas 8,5 hektar ini dulunya berbentuk danau-danau kecil buatan. Kini telah menjadi kawasan yang subur dan hijau royo-royo. Berbagai tanaman pertanian seperti jagung, cabai rawit, nanas, lada, kemiri sunan, hingga rumput untuk pakan ternak pun tumbuh subur di areal tersebut.

Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir. Muhammad Prama Yufdy, M.Sc yang berkesempatan berkunjung ke lokasi penelitian reklamasi lahan bekas tambang timah di Desa Bukit Kijang, Kab. Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Rabu, 24 Oktober 2018, menyampaikan sangat terkesan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh tim peneliti dari Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian. Hasil penelitian ini dimasa depan diharapkan dapat di scaling up pada luasan minimal 50 ha dan diintegrasikan dengan pemeliharaan ternak sapi. (I Wayan Swastika dan Tim Medsos Balittanah, 25 Oktober 2018).

Pemugaran Lahan Kering Bereaksi Asam dan Marginal

Indonesia memiliki luasan lahan masam sekitar 104 juta Ha yang mencakup 68% dari total luasan lahan pertanian (148 juta Ha), yang terutama tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Kedepan pengembangan lahan pertanian diarahkan pada lahan masam tersebut. Sekitar 47 juta Ha lahan masam berpotensi untuk dikembangkan  sebagai lahan pertanian maupun perkebunan produktif. Saat ini lahan masam di Sumatera dan Kalimantan secara luas dimanfaatkan untuk tanaman pangan terutama jagung dan kedelai dan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.

Diskusi untuk menggali besarnya potensi lahan kering masam untuk pertanian telah dilakukan pada Lokakarya sehari dengan tema “Pemugaran lahan kering bereaksi asam dan marginal” di Aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Senin, 29 Oktober 2018. Lokakarya dihadiri oleh civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Peneliti dari Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, Peneliti Dari BPTP Lampung, Bappeda Provinsi Lampung, Dinas Pertanian Provinsi Lampung dan beberapa daerah tingkat II se Provinsi Lampung, serta pihak swasta. Narasumber yang berkesempatan menyajikan materinya antara lain Prof. Dr. Muhajir Utomo, M.Sc dan Prof. Dr. Irwan Sukri Banuwa, M.Si dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Dr. Husnain dari Balai Penelitian Tanah Bogor, dan Prof. Dr. Ir. Dedik Budianta, M.Si dari Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Palembang.

Dalam paparannya, Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Husnain, menyampaikan bahwa pemanfaatan lahan masam banyak menghadapi kendala, antara lain tingkat kemasamannya tinggi (pH tanah yang rendah), kesuburan tanahnya rendah akibat mudahnya unsur hara tercuci dan diikat oleh mineral liat dalam tanah. Salah satu kendala pemanfaatan tanah masam adalah fiksasi P oleh mineral sesquoksida (Al2O3dan Fe2O3). Walupun banyak kendala, dengan pendekatan penerapan teknologi secara terpadu, lahan kering masam dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif. Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa salah satu teknologi untuk mengatasi kehilangan P di lahan masam adalah menggunakan batuan fosfat alam (rock phosphate). Rock phosphate adalah sumber hara P yang bersifat lepas lambat (slow release) karena merupakan bahan mineral alami dan memiliki efek residu hingga beberapa musim tanam.

Rock phosphate (batuan fosfat alam) adalah sumber hara P yang berasal dari mineral. Rock phosphate ditambang secara alami dan banyak terdapat di berbagai negara. Indonesia juga memiliki RP namun kualitasnya sangat bervariasi dan kurang menguntungkan untuk ditambang. Negara dengan cadangan P terbesar di dunia adalah Maroko (75%), Tiongkok (6%), Algeria dan Syria (3%), Jordan, Afrika Selatan, USA dan Russia sekitar 2%, Peru dan Saudi Arabia sekitar 1% dan sisanya 3% negara lain. Rock phosphate adalah bahan baku sumber hara P dalam pembuatan pupuk P seperti SP-36, TSP dan DAP yang larut air sehingga cepat tersedia bagi tanaman. Untuk memproduksi pupuk tersebut, maka rock phosphate perlu diekstrak terlebih dahulu untuk menghasilkan asam fosfat untuk kemudian diproses menjadi pupuk di atas. Alternatif sumber hara P adalah pemanfaatan secara langsung (direct use) rock phosphate sebagai pupuk tanpa proses apapun. Ini menjadi alternatif sumber pupuk P yang lebih murah bagi petani. Penggunaan rock phosphate sangat efektif untuk lahan masam dibandingkan dengan lahan tidak masam. Hal ini karena RP mengandungun sur hara lain terutama Ca (kalsium) yang berperan dalam menurunkan tingkat keasaman tanah atau meningkatkan pH tanah.  Sementara itu lahan kering di Indonesia didominasi oleh lahan kering masam. FAO telah merekomendasikan penggunaan rock phosphate untuk tanaman pangan maupun perkebunan. Penggunaan rock phosphate di Indonesia masih sangat jarang karena beberapa hal diantaranya: 1) akses mendapatkan rock phosphate tidak tersedia, dan 2) belum banyak dikenal oleh petani.

Penggunaan batuan fosfat alam (rock phosphate) memiliki keuntungan sebagai berikut: bersifat lepas lambat (slow release) dalam arti unsur hara P dilepas secara perlahan sehingga P lebih efektif dapat diserap oleh tanaman, serta memiliki efek residu, dengan sifat lepas lambat maka pengaruhnya terhadap tanaman lebih lama. Penggunaan RP dengan dosis yang cukup akan menghemat tenaga kerja dan biaya input produksi dari pupuk P karena RP hanya diaplikasi sekali dalam beberapa musim tanam. (I Wayan Swastika dan Tim Medsos Balittanah, 30 Oktober 2018).

Workshop Pengelolaan iTANI Lingkup Kementan

Dalam rangka menikatkan kompetensi pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian (Kementan) dan memberikan layanan informasi pertanian berbasis smartphone, PUSTAKA mengembangkan perpustakaan digital mobile berbasis smartphone, tablet, komputer destktop bernama iTani.

iTani dikembangkan untuk mendukung percepatan penyebaran informasi inovasi pertanian Kementan kepada masyarakat.

Kegiatan workshop ini dilaksanakan pada tanggal 26-28 September 2018, bertempat di Hotel Arjuna, D.I Yogyakarta, diikuti oleh 46 peserta terdiri dari pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementan

Tujuan workshop adalah (1). Menyediakan media pembelajaran bagi pustakawan pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja pengelolaan perpustakaan, dan (2) Meningkatkan kinerja layanan perpustakaan melalui aplikasi iTani. (Ijang Isyapudin dan Tim Medsos Balittanah, 28 September 2018).

Hubungi Kami

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933