Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Berita Terbaru

Kreatifitas generasi milenial perlu dikembangkan dan diarahkan ke jalur yang positif, salah satu bentuknya adalah dengan adanya lomba penulisan essay yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) pada rangkaian acara World Soil Day 2020 lalu yang mengusung tema “Keep soil alive, protect soil biodiversity.” Melalui perlombaan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dari generasi millennial akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati tanah.  Salah satu artikel yang ditulis oleh adik kita yaitu Muhammad Raya Gumilang yang berasal dari SMP Negeri 1 Bogor berhasil memperoleh juara kedua dalam lomba tersebut. Hasil karyanya seperti yang tersaji di bawah ini.

Tanah, sebagian orang mungkin masih memandangnya sebagai bagian kecil dari unsur penyusun bumi, atau hanya dianggap sebagai hamparan karpet coklat yang bebas diinjak dan diperlakukan seenaknya. Kekurangmengertian, ketidaktahuan atau bahkan ketidakperdulian kita terhadap pentingnya tanah membuat kita memanfaatkan semua fasilitas yang ditawarkan oleh tanah secara maksimal yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kualitas tanah secara drastis. Padahal sesuatu yang kecil akan menjadi sangat penting bagi kita. Tidak ada yang besar jika tidak tersusun dari yang kecil, tidak akan ada bumi bahkan kehidupan jika tidak ada tanah.

Tanah adalah salah satu bagian terpenting dari suatu ekosistem, yang berkontribusi besar terhadap keberadaan makanan, air dan energi, bahkan saat ini tanah memainkan peranan penting dalam memerangi dampak perubahan iklim yang terus menjadi isu dunia yang belum terselesaikan. Tahukah kita bahwa tanah adalah sumberdaya kehidupan yang menjadi tempat bernaung bagi lebih dari 25% keanekaragaman hayati  yang ada di planet bumi ini. Tanah merupakan pabrik kehidupan yang menjamin keberlangsungan hidup planet bumi ini. Pabrik kehidupan ini dioperasikan oleh sebuah tim yang bekerja siang malam sesuai dengan perannya masing-masing. Siapakah tim pekerja itu?

Ya, mereka adalah keanekaragaman hayati tanah seperti mikroorganisme (bakteri dan cendawan); mikrofauna (protozoa dan nematode), mesofauna (mikroarthropoda dan enchytraeids), dan makrofauna kaki seribu dan cacing tanah). Mereka bekerja baik ditempat terang (lapisan tanah atas) ataupun di tempat gelap (lapisan tanah bawah). Tempat bekerja mereka pun tersebar luas dimana-mana dari tempat terpencil seperti hutan dan  padang rumput sampai tempat terbuka seperti sawah,  ladang, dan berbagai ruang hijau baik di kota maupun di desa. Meskipun demikian, khususnya dari golongan mikroorganisme hanya 1% dari spesies mereka yang dikenal atau sudah diketahui sedangkan sisanya 99% masih belum banyak dieskplorasi. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan spesies mikroorganisme yang berada dalam tanaman, dimana sudah 80% sudah diketahui. Hal yang sama untuk makroorganisme tanah seperti nematoda kurang dari 2% spesies yang sudah diketahui, begitupun dengan tungau  hanya 4% yang sudah diketahui. Padahal hampir 90% organisme, hidup atau menghabiskan bagian siklus hidupnya dalam tanah. Dari satu sendok tanah yang sehat terdapat berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar kehidupan, dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan jumlah manusia yang ada di planet bumi ini.

Saat ini pabrik kehidupan  sedang dalam kondisi kritis, telah terjadi penurunan atau kerusakan keanekaragaman hayati tanah. Pembentukan tanah memerlukan waktu puluhan tahun bahkan berada-abad lamanya. Jika pabrik kehidupan ini rusak, maka akan sulit untuk memulihkannya kembali. Kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan karena akan berpotensi menjadi ancaman untuk kesehatan manusia bahkan keberlangsungan hidup di bumi ini. Pertanyaannya adalah seperti apa atau seberapa penting peran pabrik kehidupan (tanah) dalam menjaga keberlangsungan kehidupan bumi?

Peran utama pabrik kehidupan adalah menciptakan kondisi tanah yang sehat dan segar sehingga pasokan pangan dan energi yang sehat terpenuhi. Selain itu, pabrik kehidupan bertanggung terhadap berbagai proses ekosistem yang kritis seperti tempat penyimpanan karbon, agen pembersih air, dan sumber dari berbagai macam obat yang lebih aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

  1. Peran pabrik kehidupan dalam penangan pemanasan global.

Tanah menyimpan bahan organik yang berfungsi sebagai makanan untuk pertumbuhan tanaman, meningkatkan porositas tanah sehingga meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan air dan udara untuk akar tanaman. Hal ini berarti bahan organik tanah merupakan dasar untuk kesehatan dan kesuburan tanah begitu juga dengan produksi makanan. Fungsi lain yang paling krusial adalah kemampuan tanah dalam menangkap karbon dari udara. Mekanisme yang terjadi dimulai dari pengikatan karbon dari udara melalui akar tanaman untuk kemudian mikroba tanah menghancurkan karbon tersebut  dan mengikatnya dalam tanah sebagai bahan organik tanah (BOT).

Keanekaragaman hayati tanah memainkan peran utama dalam memproses bahan organik di tanah. Sebagai contoh, kumbang kotoran mampu menguburkan bangkai hewan kecil di dalam tanah, sehingga bahan organiknya tersedia sebagai sumber makanan untuk larvanya sendiri serta organisme tanah lainnya. Hal serupa dilakukan cacing tanah yang mencampur serasah dari lapisan permukaan dan tanah di bawahnya. Begitu juga bakteri dan fungi, bekerja sama dalam memproses bahan organik di tanah. Fungi dikenal sebagai dekomposer yang sangat handal. Secara alami, sebagian BOT dilepaskan ke udara dalam bentuk CO2. BOT merupakan sumber karbon terbesar kedua di Bumi, setelah lautan. Lebih banyak bahan organik yang ada di dalam tanah, semakin baik penyerapan karbonnya.

Masalah muncul ketika kita kehilangan bahan organik tanah yang disebabkan berbagai aktivitas manusia contohnya alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan menyebabkan keanekaragaman hayati tanah tergannggu. Kehilangan 1/3 dari tanah di dunia akan melepaskan 100 gigatone karbon dalam bentuk CO2. Sehingga jelas kehilangan bahan organik tanah akan meningkatkan emisi karbon dan akhirnya mempercepat pemanasan global. Tanah yan g dikelola dengan baik dapat menjadi penyangga penting terhadap perubahan iklim.

  1. Pabrik kehidupan sebagai penyimpan dan pembersih kontaminan di air

Peran penting lainnya dari pabrik kehidupan adalah untuk memurnikan dan menyimpan air. Saat air merembes ke dalam tanah terjadi penyaringan polutan sehingga membuat air yang keluar dari tanah menjadi bersih dan aman. Fungsi pabrik kehidupan inipun tidak lepas dari peran keanekaragaman hayati tanah yang terdapat didalamnya. Kapasitas pemurnian bergantung pada seberapa banyak keanekaragaman hayati tanah yang berperan dalam pembersihan polutan tersebut. Semakin banyak keanekaragaman hayati di tanah, semakin baik fungsi ini dapat dilakukan. Bahkan dilaporkan bahwa tanpa cacing tanah, tanah akan kehilangan keefektifannya dalam menyerap air sebanyak  90%.

  1. Pabrik kehidupan sebagai penghasil obat-obatan yang sehat dan ramah lingkungan.

Pada tahun 1928, ahli biologi Skotlandia Alexander Fleming tidak sengaja menemukan fungi tanah (Penicillium chrysogenum) yang tumbuh di laboratorium yang mampu menghambat pertumbuhan dari bakteri. Dia berpikir ada sesuatu di dalam fungi tersebut yang bisa menghambat infeksi dari bakteri tersebut dan segera setelah itu ditemukanlah antibiotik penisilin. Penisilin adalah obat pertama yang mampu mengobati banyak penyakit serius dan masih digunakan sampai sekarang.

Pabrik kehidupan tanah seperti gudang obat potensial untuk masa depan, di mana mikroorganisme seperti bakteri dan fungi secara konstan menghasilkan berbagai senyawa kimia alami untuk melawan mikrorganisme lain. Strategi bertahan hidup yang unik dari keanekaragaman hayati tanah menawarkan potensi untuk menciptakan farmasi baru sebagai penyelamat hidup.

Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika pabrik kehidupan ini berhenti beroperasi. Tidak akan ada lagi pasokan makanan, air bahkan udara bersih buat kehidupan. Tentunya ini merupakan ancaman tidak hanya untuk manusia tapi juga bagi keberlangsungan hidup di planet bumi ini. Pertanyaan berikutnya, faktor apa saja yang bisa mendorong rusak atau terganggunya pabrik kehidupan ?

Pabrik kehidupan yang rusak berarti kualitas tanah dalam kondisi buruk. Pabrik kehidupan gagal berproduksi karena strukturnya rusak dan atau terjadi penurunan jumlah pekerja (keanekaragaman hayati) di setiap harinya, sehingga outputpun menjadi turun. Banyak faktor yang menyebabkan rusaknya struktur tanah dan hilangnya keanekaragaman hayati tanah diantaranya yaitu alih fungsi lahan, perubahan iklim, praktek pengolahan tanah yang tidak berkelanjutan, pencemaran dan urbanisasi.

  1. Alih fungsi lahan

Seperti halnya sebuah pabrik yang dirancang untuk memproduksi peralatan elektronik, tidak dapat diubah begitu saja dalam satu malam menjadi pabrik yang bisa memproduksi sepatu. Begitu pula dengan tanah di hutan yang dihuni oleh mikroorganisme yang terbiasa makan daun dan batang kayu, butuh waktu untuk penyesuaian diri ketika tiba-tiba harus pindah ke lahan pertanian, perkebunan atau padang rumput. Jenis tanah yang berbeda mengandung keanekaragaman hayati yang berbeda pula. Berdasarkan beberapa penelitian dilaporkan bahwa keanekaragaman hayati di padang rumput lebih tinggi dibanding yang lainnya, diikuti oleh hutan, lahan pertanian dan  lahan perkotaan. Tantangannya adalah bagaimana mengelola tiap jenis tanah tersebut secara berkelanjutan sehingga kesuburan tanah tetap terjaga. Alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian menyebabkan terjadinya homogenitas komunitas bakteri dan kehilangan diversitas fungi dan  makrofauna tanah.

  1. Perubahan Iklim

Perubahan iklim berpengaruh terhadap organisme tanah baik secara langsung seperti kerusakan habitat dan rantai makanan, juga dampak tidak langsung seperti erosi, banjir ,kebakaran dan lainnya. Pemanasan global terbukti menurunkan keanekaragaman hayati tanah. Fluktuasi suhu dan curah hujan juga terjadi cenderung mempengaruhi struktur dan keasaman tanah. Pada gilirannya, akan menurunkan kemampuan tanah  dalam menyerap dan menyimpan air serta menopang kehidupan organisme tanah. Banyak spesies organisme tanah sangat sensitif terhadap ketersediaan air.

  1. Praktek pengolahan tanah yang tidak berkelanjutan

Praktek pengolahan tanah khususnya dalam cara bertani sangat mempengaruhi keanekaragaman hayati tanah. Pembajakan tanah yang berlebihan dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati beberapa fungi tanah. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian, seperti pestisida dan pupuk dapat mengganggu keseimbangan keanekaragaman hayati tanah (mendukung tumbuhnya satu jenis organisme di atas yang lain) dan mengganggu peran tanah yang lain seperti  kemampuan tanah dalam menyimpan karbon dan air. Selain itu, praktek bertani monokultur secara terus menerus juga dapat merusak struktur tanah dan menguras bahan organik.

Pencemaran dapat menggeser komunitas organisme menjadi didominasi oleh beberapa taksa yang dapat mentolerir, atau bahkan berkembang dengan bahan pencemar (polutan) tersebut. Contoh, tanah sekitar tambang emas yang mengandung banyak logam berat merkuri, kemungkinan hanya dihuni oleh komunitas mikroba yang toleran terhadap merkuri, sedangkan yang bersifat rentan atau sensitif akan mengalami kepunahan. Cacing tanah merupakan salah satu organisme yang bersifat lebih sensitif terhadap polutan dibandingkan semut dan rayap. Hal ini mungkin disebabkan karena cacing tanah melakukan kontak langsung dengan tanah dengan menelan banyak tanah, dan kulit mereka juga sangat mudah menyerap air. Logam berat kadmium yang banyak ditemukan pada pupuk, bisa sangat beracun bagi cacing tanah meskipun dengan konsentrasi yang rendah.

  1. Urbanisasi

Urbanisasi menyebabkan kerusakan keanekaragaman hayati tanah melalui pembangunan gedung dan penyegelan tanah. Pertanyaan berikutnya adalah solusi apa yang bisa ditawarkan untuk menjaga supaya pabrik kehidupan tetap bisa hidup?

Pabrik kehidupan bisa tetap hidup jika para pekerja di dalamnya yaitu keanekaragaman hayati tanah dilindungi. Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai solusi untuk melindungi dan mendukung keanekaragaman hayati tanah, yang pada gilirannya menopang keanekaragaman kehidupan di bumi, termasuk umat manusia. Solusi tersebut diantaranya adalah menggalakkan kembali program penghijauan kota, meningkatkan keperdulian dan dukungan untuk kehidupan tanah, pengelolaan sumberdaya tanah yang berkelanjutan, berani investasi dalam pengembangan pengetahuan, penelitian dan inovasi terkait keanekaragaman hayati dan menerapkan secara konsisten program pengelolaan sampah “reduce, reuse dan recycle”.

Selain tersebut di atas, langkah kecil dari kita dengan merubah kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan, mungkin bisa menjadi solusi nyata. Berikut tujuh langkah sederhana yang bisa dilakukan yaitu:

  1. Jangan membuang sampah rumah tangga seperti sampah baterai dan obat-obatan langsung ke tempat pembuangan sampah (TPS).

Bahan-bahan tersebut bukanlah limbah domestik tapi termasuk kedalam  ke dalam bahan berbahaya dan beracun (B3). Jika dibuang langsung ke TPS selain akan menimbulkan bahaya langsung seperti ledakan, zat kima yang terkandung dalam bahan-bahan tersebut pun akan terlepas ke tanah dan menjadi polutan yang kemungkinan besar akan menurunkan atau menghilangkan keanekaragaman hayati tanah.

  1. Berpikir berkali-kali saat ingin membeli peralatan elektronik baru.

Faktanya, lebih dari 40 juta ton limbah listrik dihasilkan setiap tahun, sehingga dengan mengurangi pembelian barang elektronik yang tidak terlalu perlu, berarti kita ikut  mengurangi jumlah limbah listrik di dunia.

  1. Ketika berbelanja, bawalah sendiri kantong belanja yang bersifat ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali

Faktanya, setengah dari belanjaan kita terdiri dari pengemasan. Bisa kita bayangkan, kalau kita menggunakan plastik yang sekali pakai saat berbelanja, akan ada jutaan bahkan milyaran ton sampah plastik yang akan dihasilkan dari hobi berbelanja.

  1. Bersikap bijak terhadap sampah plastik

Implementasikan program “reduce, reuse dan recycle” secara kosisiten dan hentikan kebiasaan membakar sampah plastik. Berdasarkan fakta, pembakaran sampah plastik akan menghasilkan zat berbahaya yang dinamakan dioksin yang berifat racun dan dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker. Selain itu, pembakaran sampah plastik akan mengeluarkan gas karbondioksida (CO2) yang akan merusak lapisan ozon dan menghasilkan efek gas rumah kaca, sehinga akan meningkatkan  pemanasan global. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanah dan kehilangan keanekaragaman hayati tanah seperti yang dijelaskan sebelumnya.

  1. Pilih dan gunakan produk perawatan dan pembersihan diri dengan bijak.

Produk seperti sabun, detergen, sampo, odol , kosmetik dan lainnya mengandung bahan kimia yang jika dilepaskan dalam ke lingkungan akan terakumulasi dan menjadi polutan bagi lingkungan khususnya tanah dan pada akhirnya akan menganggu keanekaragaman hayati tanah. Oleh karena itu, pilihlah produk perawatan dan perbersihan diri yang berbahan dasar alami  dan ramah lingkungan atau gunakan bahan-bahan tersebut secukupnya.

  1. Biasakan memilah dan memisahkan sampah rumah tangga yang dihasilkan.

Untuk limbah domestik seperti sisa makanan sebaiknya tidak berakhir di TPS tapi kita olah menjadi pupuk kompos. Fakta membuktikan hingga 1/2 dari sampah rumah tangga kita adalah bahan organik (sisa makanan, sayuran, minyak dll). Dengan mengolah limbah organik dari limbah rumah tangga, berarti kita telah membantu memelihara kesehatan tanah.

  1. Tidak membuang biji buah langsung ke tempat sampah.

Biasakan mencuci dan mengeringkan biji-bijian (di bawah sinar matahari) untuk kemudian dibungkus di dalam koran dan disimpan di tas kita dan bawa kemanapun kita pergi. Ketika menemukan lahan kosong terbuka, maka buanglah biji-bijian tersebut. Biji-biji tersebut akan berkecambah jika menemukan kondisi yang cukup air (musim hujan). Langkah ini adalah wujud nyata dalam menggalakkan program penghijauan kota dalam rangka rehabilitasi tanah. Dengan merehabilitasi tanah yang telah rusak, kita bisa menghilangkan sampai dengan 51 gigaton karbon dari atmosfer.

Di hari peringatan tanah sedunia ini, mari kita bersepakat bahwa tanah adalah pabrik kehidupan yang wajib dijamin keberlangsungan hidupnya melalui perlindungan terhadap para pekerja tanah yaitu keanekaragaman hayati tanah. Apapun yang kita makan, minum semuanya melalui peran tanah dan keanekaragaman hayati didalamnya. Kita membutuhkan tanah yang sehat untuk makanan yang sehat, lingkungan yang sehat dan kehidupan yang sehat. Semua bergantung dan berawal dari kita untuk senantiasa berkomitmen menjaga kehidupan dan  keanekaragaman hayati tanah. Mari kita hindari hal-hal yang bisa merusak tanah dan keanekaragaman hayatinya. Jadilah bagian dari solusi dalam melindungi keanekaragaman hayati tanah dengan melakukan perubahan kecil dalam kebiasaan hidup kita dalam memperlakukan tanah dan semua yang berhubungan dengannya. Langkah kecil kita akan memberikan dampak yang besar terhadap kesehatan tanah kita. Masa depan kita sangat bergantung pada tanah yang kita injak dan terlindunginya keanekaragaman hayati didalamnya. Selamat Hari Tanah Sedunia. (MRG, KZ, AFS, M.Is).

 

Tanah dalam kehidupan manusia mempunyai peran yang sangat penting antara lain sebagai sumber kesejahteraan, kemakmuran, dan kehidupan. Tanah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman perlu dikelola dengan baik dan bijaksana, karena di dalam tanah terkandung berbagai macam unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Kesalahan dalam mengelola tanah akan mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan tanah, sehingga bisa mengakibatkan menurunkan tingkat produktivitas serta dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang mendalam terkait dengan karakteristik kimia, fisika, dan biologi tanah, untuk menjamin produktivitas tanaman yang tinggi.

Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa sejak dua dekade terakhir, salah satu masalah serius dalam sistem produksi padi adalah: (a) pelandaian bahkan stagnasi peningkatan produktivitas atau levelling off, terutama pada lahan sawah intensif, (b) masih rendahnya produktivitas padi di lahan non-intensif dan lahan sub-optimal (lahan kering dan rawa), (c) peningkatan kebutuhan pupuk nasional, dan (d) alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis menjadi lahan non pertanian. Tiga dari 4 masalah tersebut sangat terkait dengan teknologi pemupukan dan kesuburan tanah.

Penggunaan pupuk anorganik takaran tinggi dan berkelanjutan akan mengganggu keseimbangan hara, menurunkan efisiensi penggunaan pupuk, dan berdampak negatif terhadap kesehatan tanah dan lingkungan. Hal ini diyakini sebagai salah satu penyebab terjadinya pelandaian produktivitas padi di lahan sawah intensif. Sementara itu tanah di lahan sub-optimal yang umumnya miskin bahan organik serta kahat hara makro justru menggunakan pupuk dibawah dosis anjuran atau tidak sesuai kebutuhan tanaman, sehingga produktivitas tanaman menjadi rendah.

Topik di atas dibahas pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura pada hari Jumat, 8 Januari 2021 yang bertempat di BPTP Bali. Pada kesempatan ini, peneliti Balai Penelitian Tanah Dr. Ir. I Wayan Suastika, M.Si sebagai nara sumber.

Dalam paparannya, Dr. Ir. I Wayan Suastika, M.Si mengemukakan bahwa penggunaan varietas unggul baru berumur genjah yang tanggap terhadap pemupukan hara makro, terutama N, P dan K, telah berhasil meningkatkan produksi padi secara sangat nyata. Dalam prakteknya di lapangan, guna meningkatkan produksi, petani cenderung menngunakan pupuk yang berlebih baik dalam hal jenis dan maupun kuantitasnya. Kondisi ini tidaklah tepat sehingga diperlukan efisiensi pemupukan. Efisiensi pemupukan tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani, tetapi juga terkait dengan keberlanjutan sistem produksi (sustainable production system), kelestarian lingkungan, dan penghematan sumberdaya energi. Selaras dengan berkembangnya teknologi varietas unggul, pengelolaan lahan dan air, dinamika kesuburan tanah, serta pemetaan status hara P dan K lahan sawah, maka rekomendasi pemupukan harus terus disempurnakan dengan didukung oleh berbagai inovasi teknologi yang ada.

Acara Bimtek ini dibuka langsung oleh Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa, MP dan diikuti oleh Peneliti, Calon Peneliti, Penyuluh, Calon Penyuluh, Teknisi Litkayasa lingkup BPTP Bali. Dalam arahannya Kepala BPTP Bali menyampaikan bahwa Bimtek ini sangat penting bagi semua peserta sebagai bekal untuk mendampingi petani di lapangan. (IWS, AFS, M.Is).

Perhatian pemerintah dalam bidang pertanian sangat besar, terutama pada masa kondisi Pandemi Covid-19 seperti saat ini. Potensi produksi pertanian dalam hal ini di Kabupaten Cianjur sedang diupayakan ditingkatkan baik jumlah maupun kualitas produk yang dihasilkan, serta keberlangsungan lingkungan pertanian. Terkait dengan hal tersebut, pemerintah beserta legislatif bersinergi guna tercapainya peningkatan produktivitas pertanian. Dalam salah satu agenda yang telah dilakukan yaitu kunjungan kerja anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Dr. Ir. Endang Setyowati Thohari, DESS, MSc ke areal pertanian milik Ibu Farida yang merupakan satu ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Cianjur. Pada kesempatan terbut juga dihadiri oleh Dr. Delima dari Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Cianjur, Wini, MSi., Ketua P3I Dr.  Gayatri, Ketua HIMPENINDO Cabang Jakarta dan Bogor Dr. Handewi, KaBalittanah Dr. Ladiyani Retno Widowati, MSc., Aditya Merry, MSi dosen Univ. Borobudur serta undangan lainnya.

Dalam kunjungannya kerja ini, Dr. Ir. Endang Setyowati Thohari, DESS, MSc menyampaikan bahwa produksi dan taraf hidup petani di Kabupaten Cianjur dapat ditingkatkan dengan cara memberian bantuan saprodi dan pendampingan teknologi sesuai dengan kondisi spesifik lokasi. Lebih lanjut, Dr Delima menyatakan bahwa pemerintah telah melihat potensi yang dimiliki di daerah ini pengembangan porang di bawah tegakan tanaman tahunan.  

Akhir-akhir ini, nama Porang (Amorphophallus mueller) atau dikenal dengana nama iles-iles sedang naik ke permukaan. Porang merupakan salah satu komoditas ekspor yang sangat diminati oleh negara Tiongkok, Thailand dan Vietnam. Hal ini dikarenakan Porang yang bersifat mudah larut dapat digunakan sebagai serat pangan, bahan membuat roti, produk kesehatan dalam membentuk tablet atau kapsul, bagian industri perekat kertas, berkadar rendah glikemik sehingga sangat baik bagi penderita diabetes. Lebih lanjut, glukomanan pada porang mampu mengurangi kolesterol dan memberi rasa kenyang lebih lama yang berfungsi membantu menurunkan berat badan, mengurangi sembelit serta iritasi usus besar. Dengan tingginya permintaan akan porang, maka diperlukan ekstensifikasi untuk budidaya porang yang memenuhi syarat tumbuh porang.

Salah satu daerah yang berpotensi untuk pengembangan porang adalah Kabupaten Cianjur. Kabupaten Cianjur berada pada ketinggian 436 – 675 mdpl dengan kemiringan lahan antara 0 – 25o, dan kisaran suhu 23 – 35 oC. Kondisi alam ini sangat cocok dengan syarat tumbuh tanaman porang yaitu tumbuh pada ketinggin antara 100 – 800 mdpl, suhu antara 25 – 35 oC dan curah hujan 1000 – 1500 mm. Porang dapat tumbuh pada naungan hingga 40%, sehingga berpotensi dikembangkan secara tumpang sari dengan tanaman tahunan. 

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas perhatian anggota DPR RI untuk memajukan pertanian di Kabupaten Cianjur  “Disini terdapat KWT yang berpotensi untuk mengembangkan pertanian dengan dukungan saprodi dan pengawalan” ungkap Wini.

Badan Litbang Pertanian melalui UK dan UPT-nya siap mendukung program pengembangan tanaman porang. BBSDLP dan Balittanah mendukung terkait identifikasi potensi lahan dan budidayanya dengan bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi demikian pernyataan KaBalittanah Dr. Ladiyani Retno Widowati, MSc. Pada kesempatan tersebut, Ladiyani mewakili Kepala BBSDLP DR. Husnain, berupaya mewujudkan maksud dan tujuan dari pemerintah dan legislatif dalam pengembangan budidaya porang di Cianjur. (LRW, AFS, M.Is).

Dalam rangka memperingati hari tanah sedunia (World Soil Day) 2020, Balittanah menyelenggarakan kegiatan perlombaan yang melibatkan partisipasi aktif dari pelajar dan mahasiswa. Salah satu lomba yang diadakan yaitu lomba menulis essay. Pemenang lomba Essay juara pertama berhasil diraih oleh Muhammad Ferdi Alfadly dari Universitas Sriwijaya. Tema essay yang dilombakan adalah “Keep soil alive, protect soil biodiversity”.  Dalam perlombaan ini, Ferdy menulis essay berjudul Ensipol (Environmental Sustainability Biopolybag): Inovasi Biopolybag dari Limbah Kulit Nanas sebagai Bentuk Diversifikasi Komoditi Lokal dan Langkah Menjaga Kesehatan Tanah Guna Mewujudkan Conservation of Soil Biodiversity for Sustainable Agriculture. Mari kita simak tulisan yang sarat akan informasi berikut ini.

Saat ini, penggunaan polybag sangat populer di kalangan petani maupun masyarakat sebagai wadah pembibitan pada salah satu proses dalam aktivitas pertanian dan perkebunan. Polybag merupakan barang yang terbuat dari polyetilena berupa plastik hitam yang berfungsi untuk menjaga nutrisi kebutuhan tanaman pada tahap pembibitan untuk menghasilkan keseragaman pertumbuhan dan bibit yang berkualitas, fungsi tersebut menjadikan polybag banyak diproduksi di Indonesia. Pada tahun 2003 hingga 2008 terhitung sekitar 2.8 milyar bibit tanaman dari berbagai jenis telah ditanam di lapangan untuk keperluan rehabilitasi lahan dan tanaman industri. Diperlukan lebih dari 7,100 ton polybag untuk persemaian bibit sebanyak itu. Hal ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju perkembangan luasan areal perkebunan dan kehutanan yang semakin pesat (Kementerian kehutanan, 2010; Darmawan, 2020).

Namun, penggunaan polybag ternyata dapat berbahaya bagi tanah. Menurut Huda dan Firdaus (2007), penggunaan polybag sebagai media tanam dapat menyebabkan pencemaran tanah karena bahan dasar polybag berasal dari polietilena yang sulit diuraikan oleh mikroba tanah. Polybag juga kurang efektif karena harus merobek polybag pada saat dilakukan proses transplanting (pemindahan bibit ke lahan) dan polybag yang telah dirobek tersebut tidak dapat digunakan lagi sehingga menyebabkan banyaknya limbah polybag yang menumpuk (Edi dan Bobihoe, 2010). Jadi, semakin banyak polybag yang digunakan maka pencemaran tanah akan terus meningkat. Berbagai upaya dilakukan masyarakat dan petani untuk meminimalisir limbahnya, seperti melakukan pembakaran ataupun pembuangan. Namun secara kimia, apabila plastik mengalami pembakaran maka akan menghasilkan gas-gas beracun seperti dioksin, hidrogen sianida (HCN) dan karbon monoksida (CO) yang berpotensi menyebabkan penyakit pernapasan serta meningkatkan pemanasan global pada atmosfer bumi (Purwaningrum, 2016). Disamping itu, pembuangan sampah polybag plastik dapat mengganggu estetika karena tidak dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tanah sehingga membuat lingkungan menjadi kotor dan berdampak buruk bagi organisme yang hidup pada tanah akibat kotaminasi bahan toxic dari remah-remah plastik yang mengandung PCB (Polychlorinated biphenyl), hidrokarbon aromatik, pestisida organoklorin, ftalat, dan zat-zat lain yang bercampur dengan tanah. Polybag plastik juga dapat membatasi tempat berlindung dan mencari makanan bagi organisme tanah serta dapat mengurangi kadar O2 yang berakibat pada matinya organisme tanah yang pada akhirnya berdampak buruk pada tumbuhan yang hidup pada area tersebut (Thompson et al. 2009). Laju perkembangan luas areal perkebunan dan meningkatnya aktivitas pertanian seiring dengan meningkatnya pencemaran tanah dan lahan akibat limbah dari penggunaan plastik polybag yang tidak ramah lingkungan menjadi suatu persoalan yang harus segera dituntaskan dalam upaya menjaga kesehatan tanah guna mewujudkan conservation of soil biodiversity untuk pertanian berkelanjutan. Persoalan ini dapat diatasi dengan dua pendekatan, yaitu menghentikan penggunaan polybag plastik atau mensubstitusi penggunaan polybag plastik dengan bahan yang ramah lingkungan (biopolybag). Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) yang berpotensi untuk mengatasi dampak negatif penggunaan polybag melalui substitusi bahan plastik menjadi bahan-bahan alami yang secara ilmiah disebut dengan biopolybag. Salah satu SDA yang dapat dimanfaatkan adalah limbah dari tanaman Nanas (Ananas comosus L. Merr). Oleh karena itu, penulis memikirkan gagasan untuk mengoptimalkan dan mengelola potensi limbah tanaman nanas di Indonesia secara berkelanjutan sebagai substitusi polybag plastik yang tidak ramah lingkungan melalui inovasi Biopolybag dari limbah kulit nanas dengan tetap melihat kondisi kekinian masyarakat dimana permasalahan ekonomi dan pendidikan dari penduduk di daerah terpencil juga patut menjadi perhatian (Sitompul, 2012; Warsihna, 2013) dan keadaan nasional yang masih dalam tahap pemulihan ekonomi dan pangan akibat pandemi covid-19 (Samahundi, 2020). Sayang sekali ketika potensi kearifan lokal tanaman nanas yang begitu besar tapi tidak dimanfaatkan secara maksimum oleh masyarakat.

Buah nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Indonesia merupakan produsen nanas terbesar kesembilan terbesar di dunia dengan produksi mencapai 1,39 juta ton per tahun. Mengingat jumlah produksi nanas yang sangat melimpah di Indonesia maka limbah kulit nanas yang dihasilkan juga ikut melimpah. Contohnya saja di PT. Great Giant Pinapple (PT. GGP), salah satu sentra perkebunan nanas di Lampung seluas 32.000 hektar. Industri tersebut setiap harinya melakukan proses pengelolaan nanas hingga menjadi juice nanas yang menghasilkan limbah dari kulit, dongkol dan mahkota nanas sebesar 40 ton/hari (Sutarto, 2018). Salah satu cara untuk mensanitasi lingkungan akibat pencemaran dari limbah kulit nanas ini adalah melalui sistem diversifikasi pangan dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi biopolybag. Selain dapat memaksimalkan potensi komoditi lokal, hal ini juga merupakan langkah yang sangat bagus karena jika limbah kulit nanas yang dihasilkan tersebut tidak terpakai maka dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan memicu timbulnya penyakit.

Kulit nanas bersifat non toksik dan mengandung karbohidrat yang besar. Karbohidrat yang terdapat dalam kulit nanas berbentuk pati (Rahmawati, 2010). Kandungan pati yang ada dalam kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku, salah satunya digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan granul di bidang farmasi (Sidhatra, 1989). Kulit nanas sangat berpotensi untuk menjadi bahan baku pembuatan biopolybag karena dilihat dari penelitian-penelitian yang telah ada bahwa adanya kandungan pati yang tinggi pada kulit singkong (44%-59%) menjadikan kulit singkong berpotensi menjadi bahan baku biopolybag yang ramah lingkungan (Myrna, 1994; Akbar et al., 2013). Hal tersebut dikarenakan pati merupakan salah satu bahan alam yang sifatnya dapat mengikat sediaan granul dan mudah terurai oleh mikroorganisme.

Selain kulit nanas sebagai bahan utama, pembuatan biopolybag juga harus menggunakan plasticizier glyserol. Ini berfungsi untuk menurunkan mobilitas dari fleksibilitas film sehingga membuat biopolybag menjadi elastis dan lentur (Garcia, 2001; Sanchez, 1998). Plasticizier bersifat hidrofilik yang berarti dapat meningkatkan kelarutan meski berada di dalam air sekalipun. Oleh sebab itu, semakin banyak plasticizier yang ditambahkan maka kelarutan adonan juga akan semakin cepat. Pada dasarnya, jenis dari konsentrasi plasticizier sangat berpengaruh terhadap kelarutan dari film berbasis pati (Bourtoom, 2007). Pembuatan biopolybag ini menggunakan metode pembuatan film plastic biodegradable yaitu melt intercalation atau teknik inversi fasa dengan penguapan pelarut setelah proses pencetakan. Metode pembuatan biopolybag ini didasarkan pada prinsip termodinamika larutan, dimana keadaan awal larutan stabil kemudian mengalami ketidakstabilan pada proses perubahan fase (demixing), dari air menjadi padat. Proses pemadatannya (solidifikasi) diawali transisi fase cair satu ke fase cair dua (liquid-liquid demixing) sehingga pada tahap tertentu, fase cair akan membentuk padatan (Aripin, et al., 2017).

Biopolybag yang dihasilkan dapat mempunyai warna kuning ataupun coklat kehitam-hitaman, hal ini ditentukan oleh keadaan limbah kulit nanas yang dipakai apakah masih segar atau sudah membusuk dan warnanya telah berubah menjadi coklat. ENSIPOL dapat dibuat dengan harga yang lebih murah karena hanya memanfaatkan bahan baku dari limbah kulit nanas yang tidak terpakai dan ditambah dengan sedikit cairan glycerol namun memiliki manfaat dan keunggulan yang banyak dibanding polybag plastik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat ensipol yaitu Rp 660,-.

Keunggulan ENSIPOL jika dibandingkan dengan polybag plastik yaitu meningkatkan kesuburan tanah karena ketika terdekomposisi ensipol dapat menjadi pupuk alami, mudah terurai, lebih murah karena memanfaatkan limbah. Dapat mengurangi biaya pemupukan karena fungsinya yang juga sebagai penyedia hara bagi tanah setelah terdekomposisi, praktis, karena dapat ditanam langsung bersama tanaman didalamnya saat proses transplanting, tidak berpotensi menimbulkan penyakit Menjaga dan meningkatkan kesehatan tanah, menjadi sumber energi dan makanan bagi organisme tanah sehingga meningkatkan populasi mikroorganisme tanah dan berkelanjutan (sustainable).

Kondisi pandemi Covid-19 mendorong bidang pertanian menjadi benteng utama kestabilan nasional, baik sebagai sumber pangan sekaligus sebagai wadah tenaga kerja. Untuk itu, diperlukan dukungan inovasi teknologi guna mendukung program Kementerian Pertanian dalam upaya peningkatan ketahanan pangan.

Sebagai pewakil dataran rendah untuk pengembangan sayuran, Kabupaten Indramayu selain menjadi lumbung padi nasional juga sebagai sentra penghasil minyak kayu putih se Jawa Barat yang luasnya mencapai 8000 hektar.  Pada beberapa daerah wilayah Perhutani penghasil kayu putih, misalnya di   KPH  Jatimunggul,  kayu putih ditanam dengan sistim surjan bersama  tanaman padi.  Apabila tanaman padi sudah dipanen, lahan tersebut ditanami dengan berbagai jenis tanaman sayuran dan buah-buahan seperti mentimun, cabai merah, cabai rawit, kacang panjang, dan semangka.  Dengan demikian   areal ini cukup potensial dan berpeluang untuk dikembangkan sebagai areal pertanaman hortikultura sayuran dan buah. 

Disisi lain, usahatani komoditas hortikultura di Kabupaten Indramayu masih belum berkembang karena hampir seluruh petani lebih memilih mengembangkan usaha tanaman  pangan (padi) karena dianggap lebih menguntungkan. Menurut Sutanto,KaBid Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Indramayu, komoditas hortikultura tanaman sayuran hanya sebatas sampingan karena pencaharian utamanya adalah komoditas tanaman padi. 

Lain halnya dengan di Kabupaten Tasikmalaya, dengan total luas areal tanam 3.933 hektar, peluang untuk mengembangkan komoditas hortikultura sayuran lebih besar karena komoditas tersebut ditanam hampir di seluruh kecamatan terutama tanaman cabai. Mewakili daerah dataran menengah hingga tinggi Kabupaten Tasikmalaya mempunyai peluang yang lebih besar dalam pengembangan tanaman cabai dengan provitas hingga 15,29 t/ha.

Dalam upaya meningkatkan provitas komoditas hortikultura sayuran di kedua lokasi tersebut diperlukan adanya intervensi inovasi teknologi yang berwawasan lingkungan.  Di Kabupaten Indramayu misalnya, provitas bisa ditingkatkan dengan pengelolaan kesuburan tanah/hara melalui pemupukan berimbang dan teknologi ameliorasi dengan pemberian pupuk kandang, dolomit dan biochar sisa tanaman (misalnya ampas daun kayu putih, sekam padi, batang jagung,dll).

Berbeda halnya dengan daerah Tasikmalaya, sebagian besar komoditas sayuran ditanam pada daerah yang miring, sehingga peluang terjadinya erosi cukup besar.  Untuk itu, salah satu cara untuk meningkatkan provitas adalah dengan implementasi teknik konservasi tanah vegetatif (strip kontur, strip rumput, alley cropping, bedengan searah kontur) untuk mengendalikan erosi.  Hal tersebut juga bisa diintegrasikan dengan pemberian pembenah tanah berupa pupuk kandang, dolomit dan biochar.

Dengan potensi luasan lahan yang ada dan dukungan inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balittanah, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Kementan, maka serta didukung oleh segenap pihak, bukan hal yang mustahil untuk menjadikan Indramayu dan Tasikmalaya sebagai salah satu sentra produksi hortikultura. (UH, LRW, RA, AFS, M.Is).

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933