Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Berita Terbaru

Pancaran mentari pagi yang cerah menyinari perjalanan kami dari tempat penginapan ke tempat tujuan, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur. Hari yang cerah ini akan diisi dengan kegiatan panen di lokasi penelitian reformulasi pupuk yang dilaksanakan oleh tim Balai Penelitian Tanah. Sesampainya di lokasi, pandangan mata dimanjakan oleh hamparan sawah yang siap dipanen dan akan panen dalam waktu dekat.

Desa Bobojong dengan luasan area mencapai 610,56 hektar, berbatasan dengan Desa Mulyasari di sebelah utara, di selatan berbatasan dengan Desa Sukajadi, di Barat berbatasan dengan Desa Kademangan, dan berbatasan dengan Danau Cirata di sebelah timur. Jarak tempuh dari Desa Bobojong menuju kota kecamatan hanya sejauh 1 km, serta ke pusat pemerintah Kabupaten Cianjur sejauh 11 km. Mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Bobojong adalah petani. Luas baku sawah di Desa Bobojong sekitar 263 hektar, Adapun varietas padi yang dibudidayakan sebagaian besar adalah Inpari-32 dan Ciherang dengan provitas rata-rata 7 ton/hektar kering panen.

Menurut PPL BPP Kecamatan Mande, Rustandi menjelaskan “Kendala di lapangan terutama di musim penghujan adalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penggerek batang dan neck blast, serta serangan tikus”. Untuk itu, lanjutnya “dilakukan pengamatan yang intensif, juga pemantau ke setiap kelompok tani di Kecamatan Mande yang mendapat bantuan benih padi dari pemerintah yaitu varietas Inpari-32”.

Kegiatan panen yang telah dilaksanakan pada tanggal 29-30 Maret 2021 di areal persawahan milik Kelompok Tani (Poktan) Rindu Alam dengan luasan berkisar 25 hektar. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang dilakukan oleh Balittanah, sebagai salah satu balai yang ada dalam koordinasi Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbangtan bertugas melaksanakan penelitian tanah untuk meningkatkan produksi pertanian di Indonesia. Salah satu tugas adalah terkait penelitian pupuk dan pemupukan.

Beberapa tanah di Indonesia memiliki tingkat status hara P dan K yang sedang sampai tinggi. Pupuk NPK bersubsidi, NPK 15-15-15, untuk tanah dengan status hara P dan K sedang atau tinggi perlu dikaji ulang dengan mereformulasi kembali. Reformulasi pupuk NPK menjadi 15-10-12 diuji di lapang oleh Balittanah melalui Kerjasama dengan PT. Petrokimia Gresik “Pengujian Pupuk NPK, Phonska 15-10-12 pada Tanaman Padi”. Salah satu pengujian lapang adalah pada tanaman padi di Cianjur. Pengujian telah mencapai fase panen.

Panen ini dilaksanakan oleh peneliti Balittanah yaitu Ir. Nurjaya, MP dengan Tim Balittanah. Dimana tujuan dari reformulasi pupuk NPK adalah untuk mengefisienkan penggunaan pupuk. Dari segi ekonomi tentu akan mengurangi biaya produksi pupuk, dari segi produksi hasil panen tidak berkurang, dan dari segi lingkungan akan mengurangi kelebihan pupuk (K) ke badan air.  #Jayalah pertanian Indonesia# (M.Is, HW, AFS).

 

Masyarakat semakin menyadari akan kesehatan pangan, membuat sistem pertanian organik dapat diterima di Indonesia. Sistem pertanian organik bukanlah sistem budidaya yang baru. Nenek moyang kita telah mempraktekan sistem pertanian alami/natural yang memanfaatkan bahan-bahan alami atau bahan organik. Mereka melakukan semua berdasarkan pengalaman dan informasi dari sesama petani.

Pertanian organik didefinisikan sebagai sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agrosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah yang tertuang dalam SNI 6729:2013 (BSN, 2013). Selain SNI, acuan pengelolaan sistem pertanian organik di Indonesia adalah International Federation Organic Agriculture Movements (IFOAM) yang berpusat di Bonn, Jerman. Pertanian organik dijabarkan sebagai sistem produksi dengan menjaga kesehatan tanah, ekosistem dan manusia. Sistem yang berbasis ekologi, biodiversitas, dan siklus dengan kondisi yang mampu beradaptasi dengan kondisi lokal, ketimbang menggunakan input yang menggunakan efek negatif terhadap lingkungan (IFOAM, 2008).

Pada kesempatan lain, Kepala Balittanah, Dr. Ladiyani Retno Widowati menjelaskan mengenai prinsip pertanian organik adalah: (1) Lahan yang digunakan bebas dari cemaran bahan agrokimia yang berasal pupuk dan pestisida; (2) Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika. Sebaiknya gunakan benih yang berasal dari kebun pertanian organik; (3) Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sistem tanaman, pupuk alam, rotasi tanaman dengan tanaman legume; (4) Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biopestisida, agen hayati dan rotasi tanaman. (5) Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetik pada pakan ternak dan secara tidak langsung pada pupuk kandang; (6) Penanganan pasca panen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.

Selanjutnya teknik pengelolaan lahan pertanian organik antara lain: (1) Rotasi tanaman, untuk menekan serangan hama penyakit, serta memberikan kesempatan kepada tanah untuk menyediakan unsur hara dominan bagi pertumbuhan yang baik dan perkembangbiakan; (2) Pemanfaatan residu tanaman. Residu tanaman mempunyai manfaat yang baik bila ditangani  dengan baik sesuai karakteristiknya; (3) Penggunaan pupuk kandang, tanaman legume, pupuk hijau, limbah organik dari luar kebun/lahan pertanian organik; (4) Pengolahan mekanis dan penamfaatan batuan mineral; (5) Perlindungan tanaman secara biologis.

Sistem Pertanian mempunyai produksi awal yang rendah saat baru konversi dari pertanian konvensional ke sistem ini, kemudian meningkat sampai produksi tertentu.

Konsep yang dibangun dari pertanian organik dan sistem pertanian konvensional adalah berbeda. Pada sistem pertanian organik, produktivitas lahan tidak dapat maksimum karena sumber input terbatas, target produksi tidak dapat ditetapkan, tetapi keberlangsungan dan kelestarian lahan terjaga. Sedangkan pada sistem pertanian konvensional, input tidak terbatas baik dari anorganik maupun organik, target hasil dapat ditentukan dengan produktivitas yang tinggi.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, permintaan terhadap produk bahan makanan organik di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Rupanya promosi yang lumayan gencar dari para produsen produk organik dan banyaknya juga persepsi yang terbentuk dalam masyarakat bahwa bahan makanan organik lebih sehat dan lebih baik dari yang konvensional mendorong peningkatan permintaan.

Meskipun demikian antusias masyarakat untuk mengkonsumsi produk organik, seperti sayuran, beras, dan lain sebagainya, sedikit teredam ketika mereka melihat label harga yang tertera. Banyak dari calon pembeli yang kemudian mundur karena mereka menemukan bahwa harga bahan makanan organik, baik di pasar, supermarket, atau yang dijual eceran, jauh lebih tinggi dibandingkan barang sejenis tetapi yang non organik. Selisih antara yang organik dan yang non ternyata cukup mahal dan bisa mencapai 30-40%.

Menurut Dr. Diah Setyorini, Peneliti Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan, animo masyarakat cukup baik untuk mengkonsumsi makanan organik terutama untuk konsumen yang peduli terhadap kesehatan,  lingkungan serta yang menganut gaya atau pola hidup tertentu.

Namun demikian akses konsumen untuk mendapatkan produk organik terkadang tidak mudah karena produk organik hanya dijual di tempat tertentu yang agak sulit diakses, lanjut Dr. Diah.

Menurut Ir. A. Kasno, MSi, Peneliti Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan yang sekaligus sebagai konsumen menyatakan produk pertanian organik lebih berkualitas, lebih menyehatkan dan cocok bagi konsumen yang mempunyai penghasilan baik. Selanjutnya dari segi keberlanjutan daya dukung lahan itu sangat bagus karena tanah, tanaman dan orang menjadi sehat.

Sistem pertanian organik sangat tergantung kepada masukan alami, baik dari hara dan pestisidanya, Dengan kebutuhan masukan alami tersebut, sistem ini mempunyai potensi dikembangkan <5% dari total luas lahan pertanian di Indonesia. Produk sehat berasal dari tanah dan budidaya yang sehat. (M.Is, LRW, AFS).

 

 

Siapa yang tidak mengenal beras pandan wangi, produk lokal unggulan dari Kabupaten Cianjur yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan namanya santer di seantero negeri. Letak geografis serta tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi diyakini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi yang berkualitas. Tidak semua kecamatan di Cianjur menghasilkan beras pandan wangi, namun potensi untuk pengembangannya masih terbuka lebar dan bagaimana pemenuhan kecukupan haranya.

Dalam rangka untuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman petani dalam budidaya padi khususnya terkait rekomendasi pemupukan maka Balai Penelitian Tanah (Balittanah), BBSDLP, Balitbangtan, Bogor telah melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur pada hari Rabu 17 Maret 2021.

Pancaran mentari pagi yang cerah seakan telah membangkitkan antusiasme petani di Desa Bobojong dan Cikalong Kulon, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur untuk mengikuti Bimtek “Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah dan Reformulasi NPK 15-10-12”, yang ditandai dengan penuhnya tempat duduk yang disediakan panitia. Acara Bimtek di Aula kantor BPP Kecamatan Mande ini merupakan bagian kegiatan Diseminasi Pendampingan Program Strategis Kementan 2021 oleh Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Acara Bimtek dihadiri oleh Kepala UPTD Kabupaten Cianjur, Ir. Cahya, UPTD Kecamatan Mande, Guspriadin, PPL Kecamatan Mande, Kepala Balittanah, Kasubbag TU Balittanah, Narasumber Ir. Nurjaya, MP dan Tim pelaksana Bimtek Balittanah serta 50 orang petani yang mewakili kelompok tani di Kecamatan Mande dengan tetap mengikuti prokes dalam situasi pandemi Covid-19.

Dalam sambutannya Kepala UPTD Kecamatan Mande, Ir Cahya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Tim Bimtek Balittanah Bogor dan mengharapkan kepada petani peserta agar memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk menambah ilmunya dalam pengelolaan pupuk dan lahan, selanjutnya ilmu pengetahuan yang diperoleh dapat diadopsi di kelompok tani masing-masing. Cahya menyampaikan apresiasinya atas terpilihnya Kecamatan Mande sebagai tempat acara Bimtek, karena tidak semua kecamatan yang beruntung mendapatkan Bimtek ini,  Sejauh ini dari 32 BPP yang ada di Kabupaten Cianjur baru 2 BPP yang mendapatkan Bimtek yaitu Kecamatan Mande dan Kecamatan Warung Kondang, acara Bimtek di BPP Kecamatan Warung Kondang, Kabupaten Cianjur dilaksanakan satu minggu sebelumnya oleh Tim dari BBSDLP. 

Acara Bimtek ini sangat penting dalam upaya peningkatan produksi padi pandan wangi di Kabupaten Cianjur dan merupakan salah satu sentra padi pandan wangi. Petani harus mengetahui karakteristik kesuburan tanahnya, berapa dosis pupuknya dan semua harus terukur dan dihitung agar sistem budidaya padinya efektif dan efisien, alias tidak menghambur-hamburkan uang. Petani juga harus lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih pupuk, karena dipasaran banyak beredar pupuk yang tidak sesuai dengan apa yang tertera di label, ini sangat merugikan petani. Dengan adanya Bimtek ini, Kepala UPTD Kabupaten Cianjur mengharapkan agar petani lebih cerdas dan bijak dalam mengelola lahan pertaniannya sehingga produktivitas padi yang saat ini berkisar 6,8-7,2 ton ha-1 dapat ditingkatkan.

Kepala Balittanah, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc dalam kesempatan itu menyampaikan terimakasih atas kehadiran petani dan peran serta BPP dalam pelaksanaan kegiatan Bimtek ini, Menurut beliau pintar saja belum cukup tapi perlu bijksana dalam pengelolaan lahan sehingga terjaga produksi dan kualitasnya. Balittanah hanya menjalankan amanah dari Kementan untuk melaksanakan Bimtek di beberapa lokasi seperti di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ibu Kepala Balai berpesan agar petani jangan menanam 1 varietas terus menerus dalam kurun waktu yang terlalu lama karena akan cenderung menguras hara tertentu, juga dengan adanya perubahan iklim maka perlu dilakukan adaptasi oleh petani.

Di akhir sambutannya Ka Balittanah mengharapkan agar komunikasi tidak terbatas pada saat acara Bimtek saja akan tetapi komunikasi terus dilakukan terutama bila ada permasalahan-permasalahan teknis yang dihadapi oleh petani di lapangan, dan Balittanah siap memberikan respon dan bersama-sama  untuk mencarikan solusinya.

Bertindak sebagai narasumber Ir. Nurjaya, MP peneliti senior dari Balittanah didampingi oleh Ibrahim Adamy Sipahutar, SP., M.Sc. Dalam acara tersebut Ir. Nurjaya, MP menyampaikan materi “Pemupukan berimbang sebagai dasar penetapan rekomendasi pemupukan padi sawah dan Reformulasi pupuk NPK 15-10-12”. Diawali dengan penyampaian permasalahan produktivitas padi yang stagnan meskipun tanaman sudah dipupuk dalam dosis tinggi, pengenalan unsur hara, ada 16 unsur hara yang diperlukan tanaman, pengenalan pupuk, pemupukan berimbang dan rencana perubahan formula pupuk NPK 15-15-15 menjadi NPK 15-10-12. Sedangkan Ibrahim menjelaskan terkait peranan penting pupuk silica bagi tanaman padi dan manfaat pengembalian jerami padi ke lahan.

Dalam diskusi, petani banyak menanyakan terkait pH tanah dan bagaimana cara pengukurannya, rekomendasi pupuk spesifik lokasi untuk Cianjur, terkait waktu pemupukan yang tepat dan juga masalah pengelolaan jerami padi. Semua pertanyaan dari petani telah direspon dengan baik oleh narasumber. Sebagai bentuk perwujudan kepedulian Balittanah dalam upaya peningkatan pengetahuan PPL dan Petani di Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur maka Ibu Kepala Balittanah memberikan bantuan berupa 1 unit Perangkat Uji Tanah Sawah untuk BPP Mande. (IAS, AFS, M.Is).

Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbangtan kembali melakukan pengawalan untuk pengelolaan hara tanah bersama penyuluh dan stakeholder pertanian pada hari Kamis, 25 Maret 2021 dengan cara melakukan Bimtek (Bimbingan Teknis) Online Balittanah Seri #3. 

Kita tahu bahwa, kebutuhan pangan semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, sementara lahan sawah semakin menciut terkonversi menjadi lahan non pertanian. Ekstensifikasi keluar pulau Jawa dengan kondisi tanah kurang subur sehingga dengan menciutnya lahan sawah satu hektar diperlukan lahan sawah 3-4 hektar untuk mencapai hasil yang sama. Kondisi tanah saat ini sebagian besar kandungan C-organiknya rendah, hara N menjadi faktor pembatas, harga pupuk mahal namun penggunaan pupuk masih tinggi di tingkat petani. Perbedaan iklim, bahan induk, dan pengelolaan lahan penyebabkan perbedaan tingkat kesuburan tanah.

Meskipun demikian, pada masa pandemi Covid-19, telah terbukti pertanian masih menjadi penopang PDB nasional sebesar 2,82% pada 2019, dan 2,59% pada kuartal IV 2020. Pertanian harus terus ditingkatkan potensi produksinya dengan bantuan ahli kesuburan tanah dan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Kementan.

Pengetahuan cara cepat deteksi hara tanah bermanfaat untuk mengetahui faktor pembatas pertumbuhan tanaman baik kimia, fisik dan biologi tanah, tingkat kesuburan, masalah tanaman yang jelek, kebutuhan tanaman akan hara, perbaikan pengelolaan tanaman seperti penggunaan varietas, jarak tanam, pemberantasan hama dan penyakit.

Permasalahan umum pertaniaan saat ini terutama lahan sawah antara lain kandungan C-organik dan N-total lahan sawah rendah, akumulasi hara P dan K, telah terjadi pelandaian produktivitas, dan rendahnya efisiensi penggunaan pupuk. Pupuk makin mahal namun aplikasi pemberian pupuk di tingkat petani berlebihan.

 Deteksi hara secara cepat dapat dilakukan dengan: (1) Pengamatan defisiensi hara di lapangan dengan memperhatikan gejala-gejala kekurangan hara; (2) Pengetahuan tentang jenis tanah; (3) Dengan mengamati peta status hara P dan K tanah skala 1:250.000 yang telah dipetakan di 23 provinsi di Indonesia dengan menggunakan aplikasi Avenza Map; (4) Analisis status hara tanah dengan menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk lahan sawah, Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) untuk lahan kering, dan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) untuk lahan rawa; serta (5) Analisis tanah dengan menggunakan soil sensor.

Deteksi hara dalam pupuk secara cepat dapat dilakukan dengan memperhatikan kemasan dengan memperhatikan logo yang jelas dan rapi, nama produknya, produsen dan ijin edar yang tercantum dalam kemasan. Mengamati bentuk secara visual pupuk yang kompak dan tidak berdebu, rasanya yang asam, baunya yang menyengat dan warna butiran yang seragam. Banyak pupuk yang beredaran di lapangan dengan meniru nama pupuk Phonska, logo yang mirip dengan kandungan hara yang kurang jelas.

Selain itu pengamatan secara cepat kandungan hara dalam pupuk juga dapat dilakukan dengan menganalisis menggunakan Perangkat Uji Pupuk (PUP) untuk pupuk anorganik terutama yang mengandung hara N, P dan K. Pupuk organik dapat dianalisis secara cepat dengan menggunakan Perangkat Uji Pupuk Organik (PUPO).

Bimtek dilakukan dengan serangkaian acara pembukaan oleh Kepala Balittanah (Dr. Ladiyani Retno Widowati, MSc), dan dipandu oleh Dr. Adha Fatmah Siregar sebagai moderator, dengan nara sumber Ir. A. Kasno, M.Si. Dalam sambutannya, Kepala Balittanah menyampaikan bahwa Balitbangtan di bawah komando Dr. Fadjry Djufri sangat peduli pada peningkatan produksi pertanian nasional, sehingga bimtek ini menjadi sarana untuk mendekatkan peneliti dan inovasi pertanian kepada petani dan stakeholder lainnya.

Dalam bimtek kali ini sangat diminati dengan banyaknya peserta yang mendaftar (>2000 peserta) dan antusiasnya peserta yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan sekitar deteksi hara tanah dan pupuk serta mengatasi permasalahan di lapangan.  (AK, LRW, M.Is, AFS).

TIK singkatan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpangan, penyebaran, dan penyajian informasi.

TIK adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.

Di hari kedua tanggal 18 Maret 2021 dalam Koordinasi Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lingkup Balitbangtan di Savero Hotel Depok dengan tetap menggunakan prosedur prokes Pandemi Covid-19. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta Off Line (tatap muka) dan 45 peserta On Line (daring).

BBSDLP dengan UPT-UPT dibawah koordinasinya mempresentasikan “Evaluasi dan Konsep Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Lingkup BBSDLP” yang terdiri BBSDLP, Balittanah, Balitklimat, Balittra, dan Balingtan dihadapkan peserta yang disampaikan oleh Moch. Iskandar (Balittanah, Balitbangtan, Kementan).

Dalam paparannya, Iskandar menjelaskan mengenai TIK dan pengembangannya lingkup BBSDLP, antara lain (1) Website, FB, IG; (2) Aplikasi dan video yang telah dibuat di lingkup BBSDLP; (3) Kondisi jaringan internet; dan (4) Rencana ke depan.

Nara sumber selanjutnya adalah UK/UPT lingkup Balitbangtan juga mempresentasikan Evaluasi dan Konsep Pengembangan TIK-nya. Menariknya dari paparan tersebut adalah banyak ragam di setiap UK/UPT berkaitan dengan TIK.

Nara sumber berikutnya, Dedi Solaeman, ST, M.Kom dari Pusat Datan dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin), Setjen, Kementan mempresentasikan “Pengelolaan Sistem Jaringan Komputer Tahun 2021”. Dalam paparannya, Dedi menjelaskan antara lain mengenai Landasan Hukum dalam pengelolaan tersebut. Dedi juga menjelaskan mengenai Regulasi Transformasi Digital Nasional, antara lain Perpres No. 95 tahun 2018, yaitu Tim Koordinasi SPBE Nasional. SPBE adalah penyelenggaraan pemerintahan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan kepada Pengguna SPBE.

Selanjutnya Nara sumber dari Sub Koordinator Data dan Informasi Sekretariat Balitbangtan, Haryo Prabowo, S.Kom mempresentasikan “Frame Work TIK Badan Litbang Pertanian”. Dalam paparannya Haryo menjelaskan antara lain: (1) Infrastruktur Data Center Sekretariat; (2) Pemanfaatan Data Center; (3) SOP Pengelolaan TIK; (4) Back Office; dan (5) Sistem Informasi dan Manajemen Database.

Narasumber terakhir adalah Bambang Dwi Anggono, S.Sos., M.Eng, Direktur e-Government, Ditjen Aptika, Kemkominfo yang mempresentasikan “Akselerasi Reformasi Birokrasi Melalui Transformasi Digital”. Dalam paparannya, Bambang antara lain menjelaskan mengenai (1) Transformasi Global Akibat Revolusi Industri 4.0; (2) Transformasi Digital; (3) Isu-isu actual Transformasi Digital Birokrasi; dan (4) Kebijakan Umum Transformasi Digital.

Salah satu peserta dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Balitbangtan, M. Irman Firmansyah, ST berkesempatan memberikan pendapatnya mengenai koordinasi ini, “Koordinasi ini sangat penting, positif dan berharga bagi pengelola TIK untuk mempererat dan memperkuat sinergi antar UK/UPT lingkup Balitbangtan pada kondisi pandemi Covid-19 dalam pengembangan TIK untuk mendukung pembangunan pertanian”.

Selanjutnya peserta yang lain, ST. Rukmini, Sub Koordinator Sub Kelompok KSPP BPTP Banten, Balitbangtan mengatakan "Acara ini sangat bagus karena bermanfaat dalam men"charge" para pengelola TIK di UK/UPT lingkup Balitbangtan untuk meng-update informasi terbaru terkait TIK dan menjadi ajang diskusi antar pengelola untuk saling memberikan dukungan melakukan perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan TIK”.  “Kita juga dapat menyajikan informasi melalui website dan medsos secara menarik, inovatif, dan menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna", tambahnya.

Peserta dalam kegiatan ini baik yang off-line maupun on-line begitu “hidup” dan bersemangat dalam diskusi mengenai kemajuan TIK di seputar pembangunan pertanian dalam mendukung program kerja pemerintah. (M.Is).

 

 

 

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933